Dalam beberapa pekan ini terjadi polimik diranah publik mengenai Rancangan Undang-Undang (RUU) Ketahanan Keluarga. RUU Ketahanan Keluarga terdiri atas 15 bab dan 146 pasal. Beberapa bab mengatur tentang penyelenggaraan ketahanan keluarga, pengasuhan anak dan pengampuan, sistem informasi ketahanan keluarga serta peran masyarakat dan bab pemantauan dan evaluasi.

Bagi pendukung RUU Ketahanan Keluarga; RUU ini tampil sebagai jawaban atas dua persoalan. Pertama, terdapat situasi rentan dalam keluarga di Indonesia. Kedua, belum ada aturan menyeluruh tentang keluarga. Sedangkan bagi para penentangnya, RUU tersebut dikritik karena dianggap terlalu mencampuri urusan pribadi.

Untuk era revolusi industri 4.0 saat ini, diperlukan sumberdaya manusia yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik baik, kemampuan non akademik, softskill, dalam menghadapi perubahan juga mutlak diperlukan. Merespon hal tersebut, sebagai implementasi Rencana Stategis UII (Pertama, penguatan nilai dasar ke-Islaman dan pengembangan kapasitas internal. Kedua, adalah menjulangkan inovasi berkelanjutan untuk membangun rekognisi internasional. Ketiga, melebatkan manfaat melalui perluasan jangkauan jejaring dan peningkatan dampak), Prodi Doktor Hukum Islam dan Prodi Magister Ilmu Agama Islam, Fakultas Ilmu Agama Islam, Universitas Islam Indonesia menggelar Guest Lecturer Daring dengan mengambil tema Mengkritisi RUU Ketahanan Keluarga tersebut.

Acara ini diadakan pada tanggal 22 April 2020 pukul 09.00-11.30 WIB dan menghadirkan Narasumber Drs. H. A. Mukti Arto, S.H., M.Hum (Hakim Agung Republik Indonesia) dan Dr. Usman Abu Bakar, MA (Guru Besar Pendidikan Islam PPs FIAI UII)

Dr. Junanah, MIS
Dr. Drs. H. A. Mukti Arto, S.H., M.Hum
Dr. Yusdani, M.Ag
Prof. Dr. Usman Abu Bakar, MA.
Diskusi Daring RUU Ketahanan Keluarga