Dimensi Budaya Dalam Islam

Kehidupan masyarakat sangat berkaitan dengan sebuah budaya masyarakat itu sendiri. Sedangkan Agama dalam masyarakat yang heterogen, adanya agama yang berbeda-beda, menimbulkan perbedaan perspektif terhadap berbudaya itu sendiri. Sedangkan budaya masyarakat satu dengan masyarakat yang lain terkadang memiliki perbedaan masing-masing. Demikian juga agama islam sebagai Rahmatan lil ‘alamin, bagaimana Islam memandang sebuah budaya dalam kerangka hukum fiqihnya

Program Studi Doktor Hukum Islam, Program Studi Magister Ilmu Agama Islam, dan Pusat Studi Islam UII menggelar seminar nasional dengan mengangkat tema “Fikih Budaya”. Seminar ini diselenggarakan pada hari Sabtu, 2 November 2019, di Ruang Audio Visual Perpustakaan Pusat UII. Seminar Nasional Fikih Budaya ini dibuka secara langsung oleh Rektor UII Fathul Wahid , Ph.D, dan sebagai Keynote Speaker Drs. Suwarsono Muhammad, MA Ketua Yayasan Badan Wakaf UII.

Bapak Fathul Wahid menjelaskan bahwa orang mempunyai  beragam perngertian mengenai budaya. Budaya adalah sebuah mental programming, budaya adalah sebuah fenomena yang kolektif dan tidak mungkin akan  terwujud dengan satu orang dan itu terjadi secara terus-menerus dan berulang-ulang.
Bapak Fathul Wahid mengatakan bahwa , Fikih budaya ini menjadikan sangat menarik dan menantang dikarenakan tidak ada fikih berbudaya. Fikih itu sendiri bisa jadi produk dari budaya dan ini dapat terlihat munculnya beberapa madzhab dalam Islam. Anjing di Timur Tengah itu sangat disukai dan dekat dengan manusia karena mengikuti Madzhab Maliki berbeda dengan Madzhab Syafi’i. Mka itu fikih bisa juga menjadi produk sebuah budaya karena sangat kontekstual.

Sementara, Bapak Suwarsono menjelaskan pentingnya berbudaya dalam beragama, budaya adalah warisan bangsa dan juga sebagai salah satu bagian dari peradaban yang wajib dijaga. Jika mulai peradaban menjadi lemah itu memberikan pengaruh negatif pada beberapa atau mungkin seluruh aspek kehidupan.