ULAMA ANGGARAN

0
13

Oleh Tabrani. ZA Al-Asyhi

SANGAT ironis membaca harian Serambi Indonesia, Rabu 23 November 2011, yang memberitakan bahwa dalam kegiatan mubahatsah dakwah bilhikmah yang diikuti oleh ulama pimpinan dayah, non dayah, cendikiawan Islam dan unsur Pemkab Aceh Barat Daya (Abdya) di aula Grand Leuser Hotel Blangpidie melahirkan 11 butir rekomendasi.

Di antaranya, pemerintah diharapkan menyediakan anggaran dalam APBK 2012 untuk menunjang kegiatan sosial, keagamaan, dakwah, dan pendidikan agama (Serambi, 23/11/2011). Penyebutan “ulama Abdya” sepertinya perlu untuk di tinjau kembali, apakah yang mengikuti kegiatan dan yang melahirkan rekomendasi tersebut benar seluruh ulama Abdya, atau sebagian ulama Abdya saja? Kalau memang rekomendasi tersebut lahir dari seluruh ulama Abdya, maka ke “ulama” an mereka menurut penulis masih dipertanyakan. Tapi kalau lahir dari sebagian ulama Abdya, berarti ada unsur politik dari sang pemegang kekuasaan di Abdya sekarang ini yang menyelenggarakan kegiatan tersebut. Karena sepengetahuan penulis tidak seluruh ulama, pimpinan Dayah dan intelektual muslim di Abdya di undang dalam acara tersebut. Hanya beberapa ulama saja yang di undang, selebihnya ada yang ‘toke pakek peci’, dan ‘tengku sagoe’.

Melihat salah satu rekomendasi yang dihasilkan dalam acara tersebut sangat memalukan, yaitu pemerintah diharapkan menyediakan anggaran dakwah. Apalagi dengan judul berita yang dikeluarkan oleh harian Serambi Indonesia 23/11/2011 “Ulama Abdya: Pemerintah Perlu Sediakan Anggaran Dakwah”. Yang jadi pertanyaan penulis kepada seluruh ulama yang mengikuti kegiatan tersebut, kalau pemerintah tidak bersedia menganggarkan anggaran untuk dakwah, apakah ulama ini masih tetap berdakwah di jalan Allah? Menegakkan kalimah tauhid? Memberi petunjuk kepada masyarakat ke jalan kebenaran? Atau hanya bersedia berdakwah kalau ada uang dan anggaran? Sebenarnya berdakwah itu karena agama Allah atau hanya karena tersedianya anggaran?

Dalam melaksanakan dakwah, penguatan aqidah, dan lain sebagainya tentang keagamaan, seorang ulama atau pendakwah sejatinya harus meniatkan semua itu karena Allah semata dan untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya hidayah, dari kebatilan menuju kebenaran, dari kebodohan menuju cahaya ilmu, dari kemaksiatan menuju ketaatan, dan dari kesyirikan menuju tauhid (QS. Ali Imran: 104), sebagaimana Rasulullah dan para sahabat serta para ulama-ulama terkemuka dahulu dalam menyebarkan dan menguatkan aqidah umat. Mereka berjuang tanpa anggaran, tanpa materi, tanpa biaya, dan tidak pernah meminta kepada penguasa untuk menyediakan anggaran untuk mereka berdakwah, dan usaha mereka berhasil meskipun tidak didukung dengan biaya yang memadai. Biaya dalam berdakwah memang sangat diperlukan, dan itu tidak dapat kita pungkiri bersama, karena dunia dewasa ini semuanya dengan uang, apapun itu dengan uang semuanya menjadi lancar.

Dalam berdakwah, tidak harus merekomendasikan kepada pemerintah untuk menyediakan anggaran untuk berdakwah, tapi sudah kewajiban pemerintah untuk memfasilitasi, memberikan bantuan dan biaya demi tegaknya agama Allah di muka bumi ini, apalagi Abdya itu Aceh dan Aceh merupakan daerah Serambi Mekkah yang bersyariat Islam, tanpa diminta atau merekomendasikan. Ulama dan penguasa (umara) sudah seharusnya bekerja sama. Karena apabila ulama dan umara tidak bekerja sama, maka dapat dipastikan akan menimbulkan kesulitan dalam mencapai tujuan bersama. Ulama memiliki kedudukan yang istimewa dalam Islam karena tanpa ulama semua orang akan menjadi nihil dan akan bertindak menurut hawa nafsu. Karena itu para ulama merupakan anugerah Allah untuk membimbing umat manusia ke jalan yang benar. Sementara itu, umara berperan dalam mengambil kebijakan-kebijakan yang berorientasi pada kepentingan umum. Di sinilah umara dituntut untuk memperhatikan ulama, memfasilitasi dan mengakomodir dengan sebaiknya serta bekerja sama, tanpa harus diminta dan merekomendasikan.

Hendaknya para ulama itu kembali memperhatikan dan merujuk definisi dakwah yang sesungguhnya. Dalam tafsir at-Thabari, Imam Ibnu Jarit At-Thabari menjelaskan, maksud dakwah tersebut ialah menyeru manusia menuju Islam dengan perkataan dan perbuatan (Tafsir at-Thabari, Jilid 11: 53). Sedangkan Imam Ibnu Katsir berkata: Dakwah kepada Allah yaitu menyeru umat kepada persaksian bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah SWT satu-satunya dan tidak ada sekutu baginya (Tafsir Ibnu Kasir, jilid 2: 477). Lain lagi dengan Syaikh Ali Mahfudz, beliau memberikan penjelasan tentang dakwah yaitu dakwah kepada Allah ialah memotivasi manusia kepada kebaikan, petunjuk, dan memerintahkan kebaikan serta mencegah yang mungkar agar meraih kebahagiaan dunia dan akhirat (Manhaj ad-da’wah ilallahi: 96).

Dakwah Islam memihak pada kebenaran; al-haq dan ma’ruf karena hal tersebut yang sesuai dengan fitrah manusia. Dakwah dalam prakteknya merujuk kepada fitrah manusia karena dalam fitrah itu ada kebenaran dan ketulusan. Maka, dalam dakwah tidak ada paksaan, tidak ada tipu muslihat, tidak ada pengaburan kesadaran penciptaan prakondisi negatif lain yang dapat mendorong pada penerimaan dakwah secara paksa, tidak harus mempunyai dana yang besar, apalagi harus mengemis dan meminta kepada pemerintah untuk menganggarkannya. Sekali lagi, hakikat dakwah adalah mengajak manusia kembali kepada hakikat fitri yang tidak lain adalah jalan Allah serta mengajak manusia kembali kepada fungsi dan tujuan hakiki keberadaannya dalam bentuk mengimani ajaran kebenaran dan mentransformasikan iman menjadi amal saleh.

Ulama sebagai panutan masyarakat adalah pewaris para Nabi (al-`ulamaul warasatul anbiya). Ulama merupakan penerus tugas para nabi dan rasul dalam hal menyampaikan ajaran agama, membawa risalah yang komprehensif baik yang berhubungan dengan “hablumminallah” maupun “hablumminannas”. Secara umum para rasul di utus untuk memperkenalkan sang Pencipta jagat raya ini yaitu Allah SWT, dengan segala kewajiban-kewajiban hamba sebagai makhluk baik untuk menjaga sifat kesucian Allah maupun dalam rangka mendidik hamba itu sendiri menjadi makhluk yang bermakna di permukaan bumi ini.

Jangan sampai ulama justru terjebak dalam perjuangan kepentingan yang bersifat pragmatis oportunis, terutama pada saat-saat menjelang pilkada. Ulama dalam banyak kesempatan justru menjadi ajang pertarungan kepentingan perebutan kekuasaan, bahkan menjadi tunggangan sebuah kelompok untuk meraih kekuasaan. Ulama dengan segala kelebihannya -serta betapa pun kecilnya lingkup kawasan pengaruhnya, masih diakui oleh masyarakat sebagai figur ideal yang mengindikasikan adanya kedudukan kultural dan struktural yang tinggi- kita berharap jangan sampai dijadikan tunggangan politik oleh sebuah kelompok. Realitas ini sudah barang tentu memungkinkan sebuah kelompok menjadikan ulama sebagai tunggangan politiknya dalam meraih kekuasaan, karena ulama mempunyai peranan yang sangat besar di dalam masyarakat yang menjadi pengikutnya, baik di bidang keagamaan dan bahkan dalam bidang ekonomi, politik dan sosial kemasyarakatan lainnya. Jadi sudah seharusnya para ulama menyadari peran vitalnya di muka bumi ini, tidak perlu takut dan cemas, karena Allah itu Maha Kaya, Maha Pemberi Rahmat, Maha Mengetahui, dan Maha Maha segalanya.

Semoga kita semua menjadi pendakwah yang sejati, yang berdakwah untuk menegakkan agama Allah di muka bumi ini. Semoga.

* Artikel telah dipublikasikan di http://acehinstitute.org/ tanggal 13 December 2011

** Tabrani. ZA Al-Asyhi | Peneliti pada SCAD Independent dan Mahasiswa Pascasarjana Magister Studi Islam Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, Alumni Dayah Darussalam Labuhan Haji Aceh.