Restorasi Gerakan Mahasiswa

0
59

Oleh: Faizi*

Perdebatan seputar kamandekan gerakan mahasiswa pasca reformasi 1998 dalam merespon dinamika kebangsaan terus digugat dan dipertanyakan ulang oleh banyak kalangan, terutama oleh mahasiswa itu sendiri. Sorotan kritis terhadap gerakan mahasiswa memang tidak bisa dinafikan ketika dihadapkan pada realitas lapangan yang sebenarnya.

Faktanya, memang terdapat indikasi kuat akan kamandekan gerakan mahasiswa dalam dasawarsa terakhir ini. Melalui harian ini, Tulisan Fauzul Andim dengan tulisannya yang berjudul ”Kemandekan Gerakan Mahasiswa” (Suara Merdeka, Sabtu, 21/05) hendak menggugat gerakan mahasiswa yang stagnan dan mundur, dimana salah satu indikasinya adalah ruang diskusi mahasiswa yang tidak lagi diramaikan pembicaraan tentang problematika umat.

Pertanyaannya kemudian, benarkah sejarah kebesaran gerakan mahasiswa di Indonesia lepas dari denyut nadi dinamika kebangsaan dan kemasyarakatan sehingga alfa terhadap peroblematika umat (baca; masyarakat)?. Sejarah menuturkan dengan tinta emasnya bahwa nyaris sejumlah gerakan mahasiswa sepanjang sejarah perjalanan bangsa ini tidak bisa dilepaskan oleh gerakan moral-sosial mahasiswa serta dukungan moril masyarakat. Mahasiswa dan masyarakat menyatu dalam sikap dan tindakan dalam merespon dinamika bangsa ini, terutama yang berkaitan dengan arogansi penguasa. Singkatnya, aksi-aksi mahasiswa harus dibarengi dengan upaya pemberdayaan masyarakat dan ditunjukkan untuk menyasar kepentingan rakyat banyak bukan elit perorangan.

Maka, tulisan pendek ini tidak hendak mengutuk miskinnya orientasi gerakan mahasiswa, melainkan memberikan pemahaman yang bernas seputar kompleksitas gerakan mahasiswa sehingga perdebatannya tidak lagi seputar disorietasi serta mandegnya gerakan mahasiswa.

Sependapat atau tidak, mahasiswa menjadi salah satu elemen penting dalam mengawal dan melakukan perubahan di negeri ini. Peran dan tanggungjawab mahasiswa dalam melakukan kerja gerakan dalam sebuah perubahan menjadi panggilan nurani tersendiri. Nyaris setiap momentum perubahan besar di Indonesia tidak bisa dilepaskan dengan kontribusi mahasiswa. Peristiwa 1908 yang kemudian dijadikan sebagai pijakan awal kebangkitan nasional murni atas inisiatif mahasiswa. Sumpah pemuda tahun 1928 yang malahirkan kebulatan tekad bangsa ini tidak bisa dilepaskan dengan mahasiswa. Belum lagi peristiwa penting lainnya yang terjadi pra kemerdekaan yang kesemuanya tidak bisa dilepaskan dengan kontribusi mahasiswa pada saat itu. Soetomo, Soekarno, Hatta, M. Yamin dan lain sebagainya. Mereka semua adalah para founding fathers kita yang berangkat dari semenjak mahasiswa hingga menjadi pelopor perjuangan kemerdekaan bagi bangsa ini.

Pasca proklamasi 1945, mahasiswa harus berbenturan dengan kebijakan dan kondisi politik Indonesia di masa kepemimpinan Soeharto. Tingginya suhu politik dan peran aktif parpol menjadikan gerakan mahasiswa tidak mampu berdiri secara independen. Gerakan mahasiswa kemudian identik dengan afiliasi politik partai tenrentu. Kondisi inilah yang membuat gerakan mahasiswa kala itu sedikit mandeg.

Tampilnya Orde Baru akibat tumbangnnya Orde Lama bukan memberikan angin segar bagi perjalanan bangsa ini, melainkan menjadi malapeta sistemik. Demokrasi dikebiri, hak asasi dikesampingkan dan pembangunan dijadikan alat penindasan. Kondisi inilah yang kemudian menjadikan mahasiswa sebagai aktor terpenting dalam mengawal dan menyuarakan hak-hak rakyat, walaupun banyak sekali tantangan dan represifitas rezim orde baru kepada mahasiswa, namun semangat juang mahasiswa tidak pernah surut. Tahun 1998 menjadi tahun kemenangan gemilang gerakan mahasiswa dalam menumbangkan rezim tiranik-hegemonik.

Pasca reformasi 1998 kembali mahasiswa dihadapkan dengan kondisi bangsa yang sulit dan terseok-seok, untuk tidak mangatakan jalan di tempat. Untuk kesekian kalinya perjuangan mahasiswa dalam menggulirkan rezim orde baru menjadi sia-sia. Hal ini menurut analisa beberapa pengamat disebabkan karena mahasiswa hanya dijadikan alat oleh kepentingan elit politik yang memiliki agenda terselubung untuk kepentingan kekuasaan semata.

Restorasi gerakan

Harus diakui bahwa gerakan mahasiswa berbeda dengan gerakan partai politik. Orientasi partai politik lebih pada perebutan kekuasan, sedangkan orientasi gerakan mahasiswa terletak pada perjuangan nilai (value) yang berkaitan dengan kehidupan mahasiswa. Mahasiswa mengambil pilihan ini tidak lain karena mahasiswa memahami dan merasakan betul bahwa terdapat nilai-nilai suci, ideal bahkan universal yang telah tergerus oleh kebijakan pemerintah. Mahasiswa berdemontrasi karena banyak menemukan gejala atau praktik yang hendak menggusur atau bahkan membunuh nilai-nilai tersebut. Vijay Sathe dalam culture and related corporate realities (1958) mendefinisikan nilai sebagai basic assumtiop about what ideals are desirable or worth striving for. Ungkapan “worth striving for” menunjukkan bahwa pada suatu saat manusia rela mengorbankan nyawanya untuk mengejar sesuatu nilai. Tampaknya, mahasiswa mendapat legitimasi kuat untuk menyandang predikat agung di atas.

Alhasil, mahasiswa sebagai pejuang nilai dan pembela kebenaran sejati, mestinya strategi gerakan yang dibangun harus bertumpu pada sikap dialogis terhadap pemerintah, introspeksi tentang kemurnian niat gerakan serta respek terhadap kepentingan rakyat banyak. Untuk itu, format gerakan mahasiswa harus tanpa kekerasan, kalau tidak identitas mahasiswa sebagai kaum intelektual akan tercederai dengan sendirinya.

Sumber; Suara Merdeka, 28 Mei 2011

Penulis adalah Mahasiswa Master of Islamic Studies UII Yogyakarta