Ramadhan: Sang Tamu Agung

0
27

Oleh: Tabrani. ZA Al-Asyhi*

Allah telah memilih bulan Ramadhan bagi ummat Islam sebagai satu bulan yang penuh berkah dan mulia. (Dr. Yusuf al-Qaradhawi).

Kedatangan seorang tamu bagi seseorang, apalagi tamu yang membawa segala yang diharapkan pastilah orang itu akan merasa riang dan gembira. Kenapa? Setidaknya, sang tamu dapat memenuhi harapan kita sebagai tuan rumah.

Bagi orang yang sudah memiliki keluarga dan anak-anak, kehadiran tamu merupakan hal yang sangat menyenangkan, apalagi sang tamu sudah lama dinanti dan diidam-idamkan dalam waktu yang begitu lama. Belum lagi bila sang tamu tergolong the have. Bukan tidak mustahil sang tamu dapat membantu meringankan beban materil tuan rumah. Begitu pula kiranya hemat penulis dengan bulan Ramadhan. Bulan yang mulia, penuh berkah, bertabur pahala dan lipatan ganjaran kebaikan merupakan Sang Tamu Agung yang harus kita sambut dengan senang dan gembira.

Ramadhan adalah tamu yang banyak membawa keberkahan, nikmat, curahan pahala dan berbagai kebaikan. Sangat naif sekali jika seorang Muslim tidak sadar akan kehadiran sang tamu agung ini. Apalagi kalau sampai lalai dan baru sadar ketika sang tamu sudah akan pergi meninggalkan sang tuan rumah. Bukankah Nabi SAW mengatakan bahwa jika seorang tamu datang berkunjung, ia membawa seribu berkah?.

Ramadhan : Tamu yang penuh berkah

Allah telah mewajibkan ibadah puasa kepada kita pada bulan Ramadhan. Tidak mungkin Allah mewajibkannya pada bulan tersebut kecuali di dalamnya mengandung rahasia-rahasia yang luar biasa, hikmah yang tinggi, ada yang sudah kita ketahui dan ada yang belum kita ketahui. Sebagian dari hikmah dan rahasia tersebut telah diketahui oleh para ilmuwan sejalan dengan kemajuan zaman (Dr. Yusuf al-Qaradhawi, 1995: 288).

Ada sebagian orang yang merasa berat menjalankan perintah ibadah puasa. Padahal, sesungguhnya, perintah ibadah puasa – yang dari dimensi lahiriah adalah latihan dari menahan diri dari makan, minum dan berhubungan biologis- sama sekali bukanlah sebuah paksaan yang bertujuan untuk menyakiti atau menyengsarakan manusia. Di balik perintah puasa itu justru ada sebuah target, yakni proses penyehatan secara rohaniah. Dan yang demikian itu sangat penting bagi kelangsungan manusia itu sendiri (Dr. Nurcholish Madjid, 2001: 58).

Di antara hikmah dari perintah menahan lapar dan dahaga adalah untuk membersihkan (mensucikan) lambung dan mengolah (melatih) diri (al-nafs). Pembersihan lambung berdasarkan pada sebuah hadits Nabi SAW yang mengatakan bahwa perut yang terlalu penuh dengan makanan adalah sumber penyakit, dan menolak makanan (puasa) adalah awal dari proses pengobatan. Jadi, puasa Ramadhan dapat membersihkan lambung dari sisa-sisa makanan yang dimasukkan ke dalamnya selama setahun.

Imam Al-Gazhali berkata bahwa sesuatu yang paling berbahaya bagi anak Adam adalah syahwat perut. Karena syahwat tersebut Adam dan Hawa dikeluarkan dari surga ke dalam alam yang penuh kehinaan dan kefakiran yaitu dunia. Dan ternyata, perut merupakan gudang segala bentuk syahwat dan tempat bersemayamnya penyakit dan keburukan serta bencana (Muhammad ‘Athiyah al-Abrasy, 2002: 102-103).

Menurut al-Qaradhawi, ternyata jenis penyakit memang banyak datang dari perut manusia yang mereka penuhi dengan berbagai jenis makanan apa saja yang mereka senangi yang tidak pernah mereka beda-bedakan; apakah makanan tersebut baik atau tidak, halal atau haram; Tidak ada satu tempat pun yang dipenuhi oleh anak Adam yang lebih jelek dari perutnya…. (HR. Al-Tirmidzi, dihasankan oleh Ibnu Majah dan Ibnu Hibban di dalam Sahihnya) (Dr. Yusuf al-Qaradhawi, 1995: 288).

Oleh karenanya Nabi SAW menganjurkan umatnya agar mengatur perutnya sedemikian rupa, agar tidak dipenuhi oleh makanan dan minuman saja. Namun, perutnya harus dibagi menjadi tiga segmen; satu bagian untuk makanan, satu bagian untuk minuman dan satu bagian lagi untuk dirinya (bekerja, bernafas, beraktivitas dan beribadah kepada Allah SWT).

Sebuah majalah menyebutkan bahwa tiga ratus orang telah terhindar dari penyakit diabetes alias kencing manis karena menjalani proses pengobatan dengan berpuasa. Maka, benarlah apa yang telah diproklamirkan oleh Rasulullah SAW bahwa berpuasa dapat menyehatkan badan “Puasalah niscaya kamu akan sehat” (HR. al-Thabrani, Sanad para perawinya adalah tsiqat sebagaimana yang disebutkan di dalam kitab “al-Targhib, karya al-Mundziri).

Di samping itu, puasa juga merupakan sarana untuk memperindah dan menghidupkan hati alias qolbu kita. Karena hati, laksana tanaman, akan mati jika terlalu banyak disiram air begitu juga sebaliknya akan mati bila tidak ada air. Maka jangan kalian hilangkan cahaya hati kalian dengan banyak makan, ujar beliau. Makanya, paramedis kontemporer mengobati penyakit lepra dengan menganjurkan berpuasa kepada pasien sebelum proses operasi dilaksanakan, begitu juga dengan penyakit lain dianjurkan oleh dokter berpuasa dulu sebelum operasi dilakukan. Selain itu, puasa juga merupakan olahraga spiritual (spiritual sport) yang sangat efektif dan mudah untuk dikerjakan.

Selain dari segi medis, puasa sendiri mengandung banyak keutamaan-keutamaan (al-Fadha`il) yang Allah berikan dan tawarkan bagi siapa yang ingin meraihnya, di antaranya; Tadarrus al-Qur’an, Shalat Tarawih, Sedekah, I`tikaf dan sebagainya. Dan yang paling menggiurkan bahwa Ramadhan memiliki satu malam yang dirahasiakan oleh Allah kehadirannya, yaitu malam Lailatu-l-Qadar, malam seribu bulan.

Adalah hikmah Allah dalam setiap hitungan waktu memiliki nilai dan keistimewaan tersendiri. Dalam satu hari, ada jam istimewa yang diberikan oleh Allah, yaitu jam seperti tiga malam terakhir bagi siapa yang ingin mengerjakan shalat malam. Dalam satu minggu Allah memberikan satu hari istimewa, yaitu hari Jum’at. Dalam satu tahun Allah memberikan satu bulan istimewa bagi umat Islam, yaitu bulan Ramadhan. Dan di dalam bulan tersebut Allah merahasiakan satu malam yang disebut dengan Lailatul-Qadar. Secara Matematis, seribu bulan diperkirakan sekitar 83 tahun.

Dalam bulan ini juga, segala bentuk kebaikan dilipatgandakan dari tujuh puluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat. Pahala amalan yang sunnah dinilai oleh Allah dengan penilaian ibadah wajib. Subhanallah, Wallahu Akbar!!!

Puasa dan Takwa

Target akhir dari ibadah puasa adalah mencapai derajat takwa (QS. 2: 183). Takwa adalah kesejajaran “iman” dan “tali hubungan dengan Allah” dengan kata lain merupakan dimensi vertikal hidup yang benar.  Ayat 183 dari surat al-Baqarah menjelaskan kepada kita bahwa “takwa kepada Allah” merupakan langkah preventive untuk menghadapi segala macam ketimpangan dan ketidakbenaran langkah manusia dalam lingkungan yang kita sendiri adalah bagian dari lingkungan tersebut.

Ketika kita menjalankan puasa, di saat berwudhu sebenarnya kita bisa saja korupsi air wudhu; kita telan sedikit ketika kumur-kumur. Rasanya, orang yang berada di samping kita pun tidak akan tahu bahwa kita sedang “korupsi”. Tapi kenapa tidak pernah kita lakukan? Karena kita merasa bahwa ada yang mengontrol kita; Allah yang Maha Tahu. Inilah salah satu nilai dari puasa tadi yang sangat urgen untuk dimiliki dan tidak kita dapatkan di dalam ritual ibadah lainnya. Karena ibadah puasa merupakan ibadah yang bersifat private; yang tidak dapat orang lain mengetahui dan menilainya. Puasa adalah urusan antara Allah dan si pelaku dan Allah sendiri yang bakal menilainya (HR. Ibnu Khuzaimah).

Sungguh Ramadhan merupakan tamu agung yang datang menemui kita umat Islam. Tamu yang datang membawa limpahan pahala, penggandaan ganjaran, keutamaan-keutamaan ibadah dan sebagainya. Marilah kita sambut kehadirannya dengan hati yang bersih dan dada yang suci. Mudah-mudahan segala yang dibawanya untuk kita benar-benar milik kita yang berguna dan memang kita butuhkan, dan semoga Allah menerima ibadah puasa kita serta segala amal ibadah kita semua, amin ya Rabb.

Tulisan ini telah di muat oleh Aceh Institut Pada Tanggal 28 Juni 2011

Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Magister Studi Islam Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, Alumni Dayah Darussalam Labuhan Haji Aceh.