PENDIDIKAN ISLAMI DI INDONESIA, APA KABAR?

0
235

Oleh: Tabrani ZA. Al-Asyhi*

Islamisasi Pendidikan (Education of Islamization) semestinya menjadi agenda utama dalam pemerintahan Indonesia, karena melihat bahwa mayoritas masyarakat Indonesia adalah Islam. Sebab, tidak diragukan lagi bahwa hanya dengan pendidikan Islam yang komprehensif pintu gerbang kebangkitan Islam dan umatnya bisa dibuka.

Hanya dengan Islamisasi Pendidikan cita-cita bangsa menjadi mungkin untuk diimpikan. Berbagai ketimpangan yang terjadi selama ini, baik pada ranah individual, masyarakat maupun tatanan negara yang merongrong mimpi kita melihat Islam jaya di Indonesia terjadi justru karena nilai-nilai pendidikan Islam belum diterapkan secara sempurna, atau bahkan tidak diterapkan sama sekali. Sehingga cita-cita pendidikan kita untuk melahirkan peserta didik yang memiliki karakteristik utuh sebagai al-‘abid ash-shalih yang mushlih (sosok pribadi yang saleh secara individual dan sosial) menjadi “jauh panggang dari api”.

Di sisi lain, kungkungan dan cengkeraman sistem pendidikan sekuler dan liberal ala Indonesia seakan semakin mempertegas urgensitas Islamisasi Pendidikan dalam konteks lokal di Indonesia. Sistem pendidikan Indonesia yang sekuler-materialistik tersebut sebenarnya hanyalah merupakan bagian belaka dari sistem kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang juga sekuler. Dalam sistem sekuler, aturan-aturan, pandangan dan nilai-nilai Islam memang tidak pernah secara sengaja digunakan untuk menata berbagai bidang, termasuk bidang pendidikan. Agama Islam, sebagaimana agama dalam pengertian Barat, hanya ditempatkan dalam urusan individu dengan Tuhannya saja. Maka, di tengah-tengah sistem sekularistik tadi lahirlah berbagai bentuk tatanan yang jauh dari nilai-nilai agama. Yakni tatanan ekonomi yang kapitalistik, perilaku politik yang oportunistik, budaya hedonistik, kehidupan sosial yang egoistik dan individualistik, sikap beragama yang sinkretistik, serta paradigma pendidikan yang materialistik.

Di saat bersamaan, Indonesia juga diserbu oleh akidah-akidah imporan yang justru bertentangan dengan akidah Islam, melawan Al-Quran dan Hadist Nabi (inkar sunnah). Belum lagi kita juga dihadapkan dengan persoalan akut lainnya seperti kasus-kasus KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme), kemaksiatan yang kian merajalela, illegal logging yang sungguh menyengsarakan kita. Begitu juga dengan persoalan khurafat, sihir dan sebagainya yang juga kian marak terjadi di Indonesia yang seolah sangat sulit untuk dihentikan, belum lagi masalah terorisme, NII dan pendangkalan aqidah. Dan kondisi Indonesia kita hari ini dengan segala carut-marutnya merupakan buah dan produk dari sistem pendidikan sekuler Indonesia tersebut yang diwarisi dari semangat kolonialisasi era penjajahan oleh para tokoh titipan kaum kolonialis.

Dalam urusan pendidikan ini, Indonesia mestinya sudah meninggalkan total semua model pendidikan sekuleristik-materialistik ala kolonial. Selain itu, secara paradigmatik, konsep pendidikan di Indoensia harus dikembalikan pada asas aqidah Islam yang bakal menjadi dasar penentuan arah dan tujuan pendidikan, penyusunan kurikulum, dan standar nilai ilmu pengetahuan serta proses belajar mengajar, termasuk penentuan kualifikasi guru/dosen serta budaya sekolah/kampus yang akan dikembangkan. Sekalipun pengaruhnya tidak sebesar unsur pendidikan yang lain, penyediaan sarana dan prasarana juga harus mengacu pada asas di atas. Melihat kondisi obyektif pendidikan saat ini, langkah yang diperlukan adalah optimalisasi pada proses-proses pembentukan kepribadian Islam (syakhsiyyah Islamiyyah) dan penguasaan tsaqafah/wawasan Islam serta meningkatkan pengajaran sains-teknologi dan keahlian sebagaimana yang sudah ada dengan menata ontologi, epistemologi, dan aksiologi keilmuan yang berlandaskan pada nilai-nilai Islam, sekaligus mengintegrasikan ketiganya.
Secara normatif, Islamisasi Pendidikan di Indonesia ini adalah sesuai dengan kultur masyarakat Indonesia yang kental dengan nilai-nilai keislaman dan mayoritasnya adalah Islam. Secara yuridis, Islamisasi pendidikan ini bisa dimulai dari kurikulum pembelajaran karena didukung oleh Undang-undang Pendidikan yang ada di Indonesia.

Kalau kita memperhatikan Undang-udang tentang pendidikan sebenarnya sudah secara jelas agar semua stakeholder pendidikan di Indoesia serius mewujudkan semua usaha islamisasi pendidikan pada semua lembaga pendidikan di Indonesia dan di semua levelnya yang dimulai dengan menata kembali kurikulum pendidikan Islam. Khususnya di lembaga pendidikan atau sekolah-sekolah dan perguruan tinggi umum. Di sini, peran eksekutif dan legislatif juga sangat dituntut untuk benar-benar menaruh perhatian yang ekstra terhadap perjalanan pendidikan Islam di Indonesia. Baik dari sektor finansial maupun sektor lainnya. Sebab, tujuan mereka diangkat sebagai legislatif dan eksekutif sendiri adalah untuk mewujudkan semua harapan rakyat yang dalam hal ini diterjemahkan ke dalam undang-undang dan aturan lainnya yang telah disepakati oleh rakyat. Di sini eksekutif dan legislatif bukan hanya cuma berjanji dari tahun ke tahun 20 % anggaran adalah untuk pendidikan akan tetapi pada realisasinya tidak ada.

Namun faktanya, hal ini belum dijalankan semaksimal mungkin. Kita bisa melihat, hingga hari ini, berapa lama jam pengajaran pendidikan Islam diajarkan di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi umum? Misalnya mata pelajaran pokok Islam seperti Akhlak, Sirah Nabawiyah, Tauhid/Akidah, Al Quran/Ulumul Quran, Hadist/Ulumul Hadist, Fikih dan sebagainya. Ada sekolah yang bahkan hanya memberikan waktu sebanyak 2 jam untuk kuota pengajaran agama Islam per pekannya bahkan mungkin tidak ada sama sekali. Seolah, ketika Islam tidak mengenal dikotomi pendidikan lalu kemudian dengan serta-merta pembelajaran mata pelajaran umum pun dengan mudahnya dianggap sudah memenuhi unsur nilai-nilai Islam. Ironis bukan? Bahkan, beberapa mata pelajaran pokok Islam ini cenderung menjadi mata pelajaran kelas dua pada sekolah-sekolah umum dan bahkan di madrasah agama sekalipun dan hanya sebagai mata pelajaran ekstra kurikuler, Na`uzubillah. Selain itu, mata pelajaran umum juga belum disajikan secara Islami. Misalnya mata pelajaran IPA, IPS, belum ada petunjuk yang rill untuk para guru bagaimana menyajikan pendidikan umum yang selalu relevan dengan nilai-nilai Islam, sehingga para peserta didik memahami betul bahwa pelajaran yang diajari juga memiliki kaitan dengan pendidikan Islam. Dengan realita seperti ini, alhasil, lahirnya produk-produk pendidikan yang buta dengan agamanya, atau hanya beragama dengan pikirannya menjadi konsekuensi yang sangat logis.

Di perguruan tinggi bahkan lebih ironis lagi, dengan alasan belajar di jurusan umum tertentu, pelajaran agama Islam tidak pernah disentuh sama sekali. Para mahasiswa hanya mendapatkan ilmu-ilmu keislaman dari halaqah-halaqah, kajian-kajian keislaman dan sebagainya. Cukupkah? Tentu tidak. Lembaga pendidikan semestinya menyediakan ruang bagi mahasiswanya untuk mempelajari Islam hingga selesai perkuliahan. Karena Indonesia membutuhkan produk-produk pendidikan yang tidak hanya menguasai bidang keilmuan umum saja. Tetapi juga memiliki pengetahuan(tsaqafah) dan komitmen keislaman (wala’ dan bara’) yang memadai. Maka tidak heran jika kemudian kita mendapati kenyataan bahwa kekuatan akidah generasi mudah Indonesia masih sangat rendah. Mereka begitu mudah terperangkap dalam aliran-aliran pemikiran keagamaan yang disebut sesat oleh para ulama.

Apa yang penulis sampaikan di sini tentu sangat tidak memadai untuk menggambarkan wajah Islamisasi Pendidikan yang seharusnya serta aktualisasinya dalam kehidupan yang nyata. Masih banyak hal lain yang mesti dikaji. Namun demikian, berangkat dari semangat dan cita-cita pendidikan di Indonesia, sudah seharusnya kita berupaya lebih efektif lagi untuk mengislamisasikan sistem dan kurikulum pendidikan kita. Para pakar pendidikan di Indonesia mestinya juga lebih giat lagi merumuskan konsep Islamisasi Pendidikan di Indonesia. Menulis buku-buku panduan pengajaran keIslaman lebih banyak lagi yang sesuai dengan kondisi Indonesia, baik untuk tingkat SD maupun hingga pedoman untuk perguruan tinggi. Tidak perlu hingga buku-buku pengajaran agama pun kita juga harus impor dari luar Indonesia.

Dengan Islamisasi Pendidikan ini, ke depan kita berharap agar Islam di Indonesia tidak hanya terkenal dengan Islam saja, tapi juga syariat Islam yang bisa membentuk manusia yang siap menjalani Islam dengan sebenarnya, Islam yang bisa membawa umat ini menuju kemajuan dan kejayaan, kekokohan akidah, mental yang kuat, mandiri dan sejahtera secara ekonomi dan sebagainya. Tentunya, semua ini hanya bisa diwujudkan jika eksekutif dan legislatif kita menaruh perhatian yang ekstra, bukan hanya retorika menjelang pemilu, pilpres dan pilkada. Wallahu a’lam bishshawab.

* Mahasiswa Pascasarjana Magister Studi Islam UII Yogyakarta. Website www.tabraniaceh.com