MENGKRITIK KURIKULUM IAIN DI INDONESIA

0
72

Oleh: Tabrani ZA. (Mahasiswa Pascasarjana Magister Studi Islam Universitas Islam Indonesia)

Selama ini kajian yang berkembang di IAIN sebagai mana tercermin dalam fakultas-fakultas dan jurusan-jurusan yang ada, hanya terbatas pada pengembangan ilmu pengetahuan agama Islam yang terkait langsung dengan itba` syariah Allah.

Pengembangan semacam itu ternyata telah mendapat kritik, yaitu pada paradigma yang mendasari IAIN dewasa ini dianggap kurang relevan lagi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tuntutan pembangunan nasional, karena bersifat sangat sektoral, hanya memenuhi satu sektor tertentu dalam kehidupan Islam di Indonesia, yaitu memenuhi kebutuhan sarjana-sarjana yang mendapatkan pengetahuan tinggi mengenai agama Islam. Dengan demikian IAIN lebih mengabadikan paham dualisme atau dikotomi pendidikan, dan melahirkan over specialization, bahkan terjadi isolasi akademik. Di samping itu IAIN dengan paradigmanya sekarang dipandang tidak memungkinkan untuk melahirkan manusia yang kompetitif dalam era globalisasi yang didominasi oleh ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga IAIN di tuntut untuk dapat melahirkan manusia-manusia yang menguasai IPTEK dan sekaligus hidup di dalam nilai-nilai agama (Islam), yang hal ini merupakan pilar-pilar dari masyarakat madani abad 21.

Kritik tersebut menggaris bawahi perlunya IAIN pada dataran operasional dibangun agar lulusannya mampu berkiprah di seluruh kehidupan dan seluruh bidang keahlian, serta berada pada seluruh strata kehidupan dan keahlian. Dengan kata lain, agar lulusan IAIN mampu berkiprah dalam forum mana pun, maka perlu dikembangkan bidang-bidang tugas fardhu kifayah yang meliputi penyiapan calon-calon ulama, teknolog, psikolog, budayawan atau sastrawan, ekonom, sosiolog, saintis dan lain-lainnya yang perspektif Islam. Jangan hanya dapat mengucapkan masya Allah ketika terkagum dengan temuan IPTEK, atau mengucapkanastagfirullah ketika temuan IPTEK membuat malapetaka.

Pengembangan program studi – program studi umum di IAIN merupakan perwujudan dari rasa tanggung jawabnya untuk menyiapkan calon-calon sarjana atau tenaga kependidikan yang memiliki komitmen akademis-religius atau personal dan profesional religius.

Kalau kita melihat sejarah, bahwa aspirasi umat Islam pada umumnya dalam pengembangan perguruan tinggi Islam pada mulanya di dorong oleh beberapa tujuan. Pertama, untuk melaksanakan pengkajian dan pengembangan ilmu-ilmu agama Islam pada tingkat yang lebih tinggi secara lebih sistematis dan terarah. Kedua, untuk melaksanakan pengembangan dan peningkatan dakwah Islam. Ketiga, untuk melakukan reproduksi dan kaderisasi ulama dan fungsionaris keagamaan, baik pada kalangan birokrasi negara maupun sektor swasta, serta lembaga-lembaga sosial, dakwah, pendidikan dan sebagainya.

Kehadiran IAIN diharapkan mampu menjadi pelopor dalam penciptaan ukhuwah Islamiyah dalam arti luas, dalam arti mampu membentuk manusia yang memiliki kesalehan pribadi dan sekaligus kesalehan sosial. Kesalehan pribadi mengandung maksud seorang muslim yang baik, yang memiliki komitmen untuk memperbaiki, meningkatkan serta mengembangkan potensi dan kreativitas dirinya sekaligus meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaannya secara berkelanjutan. Sedangkan kesalehan sosial mengandung makna seseorang yang kreatif tersebut memiliki kepedulian untuk berhubungan secara harmonis dengan lingkungan sosialnya dan sekaligus mampu ikut bertanggung jawab terhadap pengembangan masyarakatnya atau memiliki keunggulan partisipatoris yang dilandasi oleh tingginya kualitas iman dan takwa terhadap Allah SWT.

Di samping itu menurut analisis para ahli (Tilaar, 2000) bahwa ada beberapa kekuatan global yang hendak membentuk manusia masa depan, yaitu (1) kemajuan IPTEK dalam bidang informasi serta inovasi-inovasi baru di dalam teknologi yang mempermudah kehidupan manusia (2) perdagangan bebas yang ditunjang oleh kemajuan IPTEK (3) kerja sama regional dan internasional yang telah menyatukan kehidupan berusaha dari bangsa-bangsa tanpa mengenal batas negara, dan (4) meningkatkan kesadaran terhadap hak-hak asasi manusia serta kewajiban manusia dalam kehidupan bersama, dan semakin meningkatnya kesadaran bersama dalam alam demokrasi.

Berbagai kekuatan global tersebut menggarisbawahi perlunya IAIN untuk menyiapkan calon lulusan yang unggul dalam IPTEK, produktif dan kompetitif, dengan tetap memiliki kesadaran hak dan kewajibannya dalam alam demokratis dan sekaligus mampu ikut bertanggung jawab terhadap pengembangan masyarakatnya atau memiliki keunggulan partisipatoris yang dilandasi oleh tingginya kualitas iman dan takwa terhadap Allah SWT.

Untuk mengantisipasi berbagai masalah tersebut, maka perlu dilakukan reorientasi pengembangan kurikulum IAIN dengan bertolak dari pandangan dasar bahwa IAIN sebagai perguruan tinggi Islam mengemban misi sebagai lembaga pengembangan keilmuan atau kajian ilmu-ilmu keislaman, sekaligus sebagai lembaga keagamaan yang berusaha membangun sikap dan perilaku beragama yang loyal, memiliki komitmen terhadap Islam, serta penuh dedikasi terhadap agama yang diyakini kebenarannya, atas dasar wawasan keilmuan keislaman yang dimiliki, dengan tetap menjaga kerukunan hidup beragama yang dinamis. Kemudian IAIN sebagai perguruan tinggi yang menyelenggarakan program pendidikan akademik dan atau profesional, mengemban misi untuk menyiapkan calon-calon lulusan yang mampu mengintegrasikan “kepribadian ulama” dengan “intelektualitas-akademik dan atau profesionalitasnya” dan mengintegrasikan “profesionalitas dan atau intelektualitas-akademik” dengan “kepribadian ulama” sesuai dengan bidang keahlian atau konsentrasi studi yang ditekuni, yang diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di tengah-tengah kehidupan dunia yang semakin global. Selanjutnya IAIN sebagai bagian integral dari sistem pendidikan nasional berupaya menyiapkan calon lulusan yang memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif sesuai dengan standar mutu nasional dan internasional.