Isro’ Mi’roj

0
19

Oleh: Tabrani. ZA Al-Asyhi*

Malam Rabu, sejak matahari terbenam masuklah 27 Rajab 1432 H. Dan beberapa jam kemudian, yaitu jam 24.00 barulah mulai masuk tanggal 29 Juni 2011. Malam 27 Rajab adalah salah satu malam yang termasuk penting bagi umat Islam, karena pada malam itu Nabi Muhammad SAW diisra dan dimi’rajkan oleh Allah SWT.

Istilah isra yang artinya berjalan malam adalah bahasa Al Quran, sedangkan istilah mi`raj yang artinya naik adalah istilah yang dipakai dalam Al-Hadits. Namun demikian walaupun mi`raj bukan bahasa Al-Qur`an akan tetapi akar kata tersebut yang dibentuk oleh huruf-huruf `ain, ra, dan jim menjadi `araja adalah bahasa Al-Qur`an. Peristiwa isra tercantum dalam QS. Bani Israil atau QS. Al-Isra’ ayat 1, sedangkan peristiwa mi`raj tercantum dalam QS. An-Najm ayat 13 – 18.

Yang akan dibahas dalam ini tidaklah sebagaimana yang lazim dibahas dalam ceramah-ceramah ataupun diskusi-diskusi dalam peringatan isra-mi`raj. Yang akan dibahas adalah sumber-sumber informasi yang relevan dengan peristiwa isra-mi`raj. Seperti telah kita ketahui bahwa sumber informasi itu ada tiga: wahyu, alam dan sejarah.  Kita mulai dahulu dengan sumber informasi wahyu. Ini sangatlah relevan, karena peristiwa penting tersebut disampaikan kepada umat manusia oleh Allah SWT melalui wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Jadi pembahasannya pendek saja, artinya sampai di sini saja.

Bagaimana dengan sumber informasi alam? Ini perlu pembahasan yang lebih panjang dari yang pertama. Untuk dapat mengkaji suatu peristiwa dengan bersumberkan informasi dari alam haruslah memenuhi dua persyaratan. Pertama, harus terbuka dan kedua harus sinambung. Untuk jelasnya, kita ambil contoh burung yang terbang di udara. Untuk dapat mengkaji proses kepak sayap burung yang sementara terbang di udara, haruslah mesti dapat disaksikan oleh semua orang, dapat diobservasi, dapat diamati oleh semua orang yang berkepentingan dalam mengkaji seluk-beluk kepak sayap burung yang mengudara itu. Inilah yang disebut dengan terbuka. Kemudian burung itu selalu sanggup terbang pada waktu yang lalu, waktu sekarang dan insya Allah waktu yang akan datang. Ini disebut dengan sinambung. Tanpa kedua persyaratan itu, suatu peristiwa tidaklah dapat bersumber informasi dari alam.

Bagaimana dengan peristiwa isra-mi`raj? Tidak terbuka, tidak dapat disaksikan oleh siapa pun, kecuali oleh Allah SWT dan para malaikat. Peristiwa itu dapat kita ketahui karena Allah SWT memberitahukannya kepada kita melalui wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Tidak sama misalnya dengan peristiwa photosynthesis, kita dapat mengetahuinya melalui wahyu dan juga dapat diobservasi oleh para pakar yang berkepentingan untuk mengkaji peristiwa itu, artinya terbuka bagi siapa saja yang berkepentingan dan yang mau. Kemudian, peristiwa isra-mi`raj hanya berlaku satu kali dan pemegang peran hanya satu orang yaitu Nabi Muhammad SAW. Artinya peristiwa ini tidak sinambung. Tidak sama misalnya dengan proses photosynthesis, berproses waktu lalu, sekarang dan insya Allah waktu yang akan datang. Kesimpulannya, alam sebagai sumber informasi tidak dapat dilakukan untuk mengkaji proses isra-mi`raj. Dan itu berarti proses isra- mi`raj tidak mungkin dapat dikaji oleh sains.

Bagaimana dengan sumber informasi sejarah? Sumber informasi ini ada kelemahannya, karena tidak eksak dalam arti sejarah dapat dimanipulasi, dipalsukan oleh penulis sejarah. Hadits-hadits dalam arti sabda dan perbuatan Nabi Muhammad SAW termasuk dalam sumber informasi sejarah ini. Hadis-hadis pun tidak luput dari pemalsuan. Orang yang mula-mula meletakkan dasar metode pendekatan dalam menyaring hadits-hadits dari pencemaran pemalsuan hadits adalah Imam Bukhari. Hadits-hadits yang luput dari pemalsuan yang disaring oleh Imam Bukhari tersebut dikenal dengan Shahih Bukhari. Metode pendekatan yang dipakai dalam menyaring hadis dari pencemaran pemalsuan, kemudian berkembang menjadi disiplin ilmu tersendiri yang disebut denganilmu Mushthalah Hadits. Dalam metode ini fokusnya adalah antara lain, kesinambungan yang menyampaikan (sanad) dari Nabi Muhammad SAW sampai kepada perawi hadis (misalnya Imam Bukahri), daya ingat dan inteligensi yang menyampaikan, akhlak mereka tercakup antara lain sikap, gaya hidup yang tidak urakan. Dan juga yang tidak kurang pentingnya ialah sabda dan perbuatan Nabi Muhammad SAW bukan hanya melalui satu jalur. Maksudnya pada waktu Rasulullah bersabda dan berbuat disaksikan oleh banyak sahabat, dan setiap sahabat membentuk jalur informasi yang disampaikan kepada perawi secara sinambung. Artinya terdiri atas banyak jalur sebanyak jumlah sahabat yang mendengar ucapan dan melihat perbuatan Rasulullah sendiri. Dan setiap jalur terdapat sanad yang sinambung. Hadits yang demikian itulah yang disebut dengan hadits shahih. Walaupun sanadnya itu sinambung tetapi hanya ada satu jalur saja, hadits yang demikian itu disebut hadits ahad. Hadits shahih adalah sumber sejarah yang eksak, sedangkan hadits ahad tidak dapat dipandang sebagai sumber sejarah yang eksak.

Walhasil, akhir dari pembahasan ini adalah himbauan kepada para muballigh dalam menyampaikan tablig ataupun dalam mujadalah tentang peristiwa isra-mi’raj, hendaknya tidaklah memakai sumber informasi dari alam, dan juga tidak mengadakan perbandingan isra-mi’raj dengan proses yang alamiyah. Yaitu dengan cara misalnya memberikan ilustrasi lalat naik kapal terbang, sebagai perbandingan dengan Rasulullah naik buraq. Bukankah ini terlalu naif, Rasulullah dibandingkan sebagai lalat, dan buraq dibandingkan sebagai kapal terbang? Apakah ini tidak menurunkan derajat Rasulullah? Atau dengan mengatakan Rasulullah mi`raj ke planet-planet, bukankah ini menurunkan derajat Rasulullah dari seorang Nabi dan Rasulullah menjadi astronaut? Ingatlah bahwa Nabi Muhammad Rasulullah SAW isra-mi`raj tidaklah menempuh alam yang berdimensi ruang dan waktu (space-time continuum) melainkan menempuh alam yang bebas dari segala dimensi nisbi, dimensi yang tak sanggup akal manusia membayangkannya.

Inilah makna kalimah SUBHANA pada permulaan Surat Al-Isra ayat 1: Subhana-lladzie asraa bi’abdihie laylan min-almasjidil Haraami ila lmasjidil Aqsaa, alladzie baaraknaa hawlahuu, linuriyahuu min aayaatinaa, innahuu huwas-samie’ul Bashier, (Mohon maaf karena sudah menulis latin ayat Al-Qur`an.pen). artinya: Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha, yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Maka sekali lagi dihimbau, terutama sekali dalam hal isra-mi`raj ini, pakailah hanya dua sumber informasi: Wahyu dan sejarah yang eksak, yaitu Al-Qur`an dan Hadits Shahih. Wallahu a’lamu bishshawab. 

 

Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Magister Studi Islam Universitas Islam Indonesia Yogyakarta