Ironi Negeri Sampah Elektronik

0
16

Oleh: Faizi*

Miris, itulah mungkin ungkapan yang pas untuk menggambarkan potret riil Indonesia hari ini. Betapa tidak, Indonesia sebagai negara berkembang menjadi salah satu sasaran pembuangan sampah elektronik dari industri negara-negara maju. Masuknya 9 truk peti kemas berisi monitor komputer bekas dari Massachusetts, Amerika Serikat, pada 2011 adalah bukti konkret Indonesia menjadi sasaran negeri sampah elektronik (Kompas, 23/04/2011).

Tentu, ancaman sampah elektronik (e-waste) tidak hanya datang dari negara super power Amerika Serikat, tapi dari negara-negara seperti China dan India. Sebab kedua negara ini mempunyai komitmen kuat dalam pengembangan teknologi informasi dalam dekade terakhir ini, sehingga ancaman serbuan sampah elektronik mesti disikapi secara serius dan bijaksana oleh pemangku kebijakan kita. Kalau tidak, Indonesia hanya akan menjadi ”tempat pembuangan sampah elektronik”.

Jujur harus diakui, ekspor sampah elektronik ke negara berkembang tidak bisa dilepaskan dari motif ekonomi. Namun, dalam jangka panjang dampak yang paling dahsyat bisa mengganggu kesehatan, seperti merusak susunan saraf anak serta problem sosial lainnya. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari karakter dasar dari sampah elektronik yang mengandung zat-zat kimia berbahaya yang tidak bisa didaur ulang. Namanya saja sampah teknologi tinggi, pengolahannya juga membutuhkan teknologi yang tidak kalah tinggi. Ketidakmudahan daur ulang inilah yang kemudian menyulut keprihatinan banyak orang terutama dunia medis. Masalahnya kian runyam, tatkala kebanyakan sampah-sampah elektronik tersebut diolah dengan cara yang sangat sederhana dan membahayakan.

Nyaris kita lupa bahwa perkembangan teknologi tidak berpengaruh pada pemanasan global (global warming) yang kini menjadi isu internasional. Dunia limbah atau sampah elektronik merupakan kelompok limbah yang saat ini mendapat perhatian luas yang lebih representatif untuk kelompok limbah ini sebenarnya adalah Waste of Elektronic and Electrical Equipment (WEEE). E-waste merupakan barang elektronik atau elektrik yang sudah tidak dipakai (baik rusak atau sudah tidak mau dipergunakan lagi) dan diniatkan untuk dibuang. E-waste menjadi masalah, karena kecepatan regenerasi yang dipengaruhi perkembangan teknologi, khususnya semikonduktor yang sangat pesat dan cenderung semakin murah. Akibatnya, barang elektronik dapat diproduksi dengan fungsi yang semakin beragam dengan harga yang semakin terjangkau.

Realitas di atas kemudian diperkuat dengan kebiasaan masyarakat kita dalam mengganti barang-barang elektronik seperti komputer, hp, laptop, televisi, atau radio. Namun pernahkah terlintas dalam pikiran kita, akan ke mana barang-barang bekas yang sudah kita buang itu?

Kebiasaan mengganti barang elektronik tidak harus diterjemahkan dengan membuang yang lama ke tempat sampah, boleh jadi dijual ke orang lain. Tapi proses itu tetap akan ada akhirnya, jadi akan selalu menghasilkan apa yang disebut sebagai sampah elektronik. Kita selalu tergiur dan terpaku dengan barang-barang baru, sehingga yang lama mau tidak mau harus menjadi sampah.

Sampah elektronik di dunia ini luar biasa besarnya. Menurut U. S Environtmental Protection Agency, diperkirakan 30 hingga 40 juta komputer (PC) di AS tiap tahun menjadi sampah (National Geographic edisi Januari 2008). Kasus ini baru AS, belum negara-negara lainnya seperti misalnya Jepang, China, ataupun India. Itu juga baru komputer, belum HP, TV, DVD, printer, dan lain sebagainya. Betapa besatnya sampah elektronik di jagad raya ini.

Sebuah riset yang dilakukan Puji Lestari, staf pengajar dan peneliti jurusan Teknik Lingkungan ITB Bandung menunjukkan, adanya hubungan invers (terbalik) kandungan timbal terhadap angka IQ, semakin tinggi kadar timbal dalam darah, semakin rendah poin IQ-nya. Sedangankan penelitian yang dilakukan oleh Muhamad Khidri Alwi, peneliti dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Makasar menyebutkan, setiap kenaikan kadar timbal 10 mkgr/dl dalam darah, memicu penurunan IQ sebesar 2,5 poin. Penurunan ini sudah dimulai ketika kadar timbal di atas ambang batas 10 mkgr/dl. Sementara dalam jurnal Enviromental Health Perpective, memuat penelitan yang dilakukan oleh Bruce P Lanphear, yang memperlihatkan, bahwa IQ seorang anak malah mulai menurun saat kandungan timbal dalam darah berkisar 2,4 – 10 mkgr/dl. Secara pasti Lanphear mengatakan, saat akumulasi timbal menipis kisaran 10 – 20 mkgr/dl dan 20-30 mkgr/dl, maka penurunan IQ yang terjadi adalah 1,9 dan 1,1. Maksimal penurunan poin IQ dalam riset adalah 3,9.

Pemerintah sebagai suatu lembaga yang mengawasi dan dapat menseleksi baran–barang yang masuk di Indonesia belum bertindak tegas untuk menanggapi permasalahan ini. Dari penelitian di atas dapat diketahui memang barang elektronik bekas yang dibiarkan ditumpuk diluar rumah dan terkena air hujan dapat membahayakan bagi manusia terutama anak–anak sebagai generasi penerus bangsa. Akibat dari sampah elektronik yang bisa membahayakan generasi penerus bangsa sudah seharusnya mendapat perhatian lebih bukan hanya dari pemerintah tetapi kita sendiri sebagai konsumen.

Penanganan yang terstruktur dan manajemen yang baik sangat diperlukan dalam menangani limbah jenis ini. Penanganan sampah dengan prinsip 3R (reduce, recycle, dan reuse), yaitu sumbernya, daur ulang, dan guna ulang serta pemisahan sampah organik untuk mempermudah pengolahannya sebenarnya telah lama disosialisasikan. Namun hingga kini masih terbatas dilakukan di beberapa kota besar. Alhasil, butuh komitmen dan kesadaran semua pihak menyelesaikan masalah akut sampah elektronik ini.

* Mahasiswa Magister Studi Islam Konsentrasi Ekonomi Islam UII Yogyakarta

(Sumber; Jawa Pos, 29 Mei 2011)