Magister Studi Islam UII

You are here: Home arrow News & Agenda arrow Pameran Pendidikan PPs FIAI UII di Ponpes Kauman Lasem
  • Decrease font size
  • Default font size
  • Increase font size
Pameran Pendidikan PPs FIAI UII di Ponpes Kauman Lasem | Print |
Tuesday, 08 February 2011

Tanggal 6 Februari, PPs FIAI UII (MSI UII dan DHI) menjalin Kerjasama dengan Pondok Pesantren Kauman Lasem. Memulai kerjasama diselenggarakan Pameran Pendidikan PPs FIAI UII di Ponpes Kauman Lasem dan seminar dengan narasumber Prof. Dr. H.M. Abdul Kariem. Penadatanganan MoU disaksikan oleh Wakil Bupati Rembang.

Makalah yang disampaikan oleh narasumber sebagai berikut:

 

Perjalanan Sejarah dan Kebudayaan Islam:  Analisis Geo-Kultur[1]

Oleh: M. Abdul Karim [2]

 A. Pendahuluan

 

Kemunculan Islam dalam sejarah dunia menyimpan sejumlah keunikan dan keajaiban. Sejak berabad-abad, penyebaran Islam di berbagai belahan bumi telah  memberikan pengaruh bagi kehidupan manusia dalam sistem politik, sosial, ekonomi, maupun budaya. Kertas kerja sejarah Islam telah terbukti berorientasi kepada tatanan yang lebih beradab dan potretnya menunjukkan bahwa ajaran agama ini tidak hanya terbatas dalam koridor keagamaan dan bersifat transendental semata, tetapi ia  menyejarah dalam  suatu peradaban yang utuh dan sempurna.[3] Sistem Islam yang berdiri pada zamannya mampu meninggalkan corak pemerintahan dengan sandaran negara besar yang sangat luas dan  belum pernah terjadi dalam sejarah  manapun sebelumnya.

 Menurut Hugh Kennedy, kekuatan Islam telah terbangun sejak awal perkem-bangannya, penulis sejarah  (680-an) dari kalangan pendeta, John Bar Penkaye ketika menyelesaikan kertas kerja sejarah dunia di tepi Sungai Tigris, mengajukan sebuah pertanyaan “bagaimana dapat Islam begitu cepat tersebar dari Timur Tengah ke Persia, Afrika bahkan sampai ke Bizantium”? Sebagai seorang pendeta yang taat, Penkaye menjawab ini adalah kehendak sejarah yang telah ditentukan Tuhan.[4] Jawaban ini tentu tidak memuaskan, selain karena bersifat teologis juga mengesampingkan proses kreatifitas budaya  manusia dalam sejarahnya.

Jawaban pendeta di atas lebih bernada kesejukan dibandingkan dengan sorotan tajam perkembangan Islam oleh sebagian orientalis. Islam dalam pandangan ini seperti yang dicatat Watt: “Islam telah disebarluaskan dengan pedang dan kekerasan”[5],  bahkan hal ini berkembang ke pemikiran selanjutnya bahwa  Islam dinilai sebagai ajaran yang mengandung kekerasan. Pendekatan historis-kritis  membantu membuktikan bahwa teori penyebaran Islam ke luar Jazirah Arab berbeda dengan teori orientalis “seram” di atas.

Jalan tengah dapat diambil bahwa perkembangan Islam yang terjadi di kawasan luar Jazirah Arab tidak hanya bersifat pengarahan kekuatan militer dan kekerasan tetapi juga memakai cara adopsi kebudayaan atau dengan kata lain ditempuh melalui jalan pénétration pacifique. Banyak model adopsi kebudayaan yang di kemudian hari dikenal dengan pendekatan kultural dipakai ketimbang pertimbangan militer. Adapun pertim-bangan kekuatan militer disebabkan oleh beberapa faktor mendesak seperti ancaman keselamatan, perlindungan terhadap penduduk setempat, dan berbagai macam pertim-bangan alasan kemanusiaan lainnya.

Dengan demikian tidaklah benar semata-mata dengan kekerasan, justru Islam ha-dir di sebagian besar kawasan yang dijumpainya untuk melakukan pembebasan ketertin-dasan masyarakat setempat dari belenggu perbudakan.Tulisan ini melihat aspek pendeka-tan kultural dan penanaman nilai-nilai kemanusia dari sejak Islam hadir  sampai tersebar ke berbagai penjuru dunia. Tulisan ini tidak  membahas: seluruh kawasan dunia Islam tetapi hanya memberikan contoh beberapa kasus dari sejak periode klasik sampai abad pertengahan dengan aspek bahasan: (1) bagaimana makna kultural sejarah Islam dan mengapa dialog dan akulturasi  kebudayaan  terjadi dalam sejarah Islam ? 

 

B. Keberpihakan Islam Kepada Kreatifitas Budaya dan Keilmuan. 

 

Sejak Muhammad SAW, tata cara dan aturan keagamaan diarahkan kepada ke-sempurnaan. Selain sebagai pembawa wahyu, Muhammad juga seorang pemimpin ma-syarakat dan sekaligus kepala negara. Dalam sistem pemerintahan, Nabi SAW menerapkan beberapa aturan pokok. Ia mewariskan tatanan masyarakat yang anti kelas, menghilangkan feodalisme, dan pemusnahan chauvinisme kesukuan yang sangat kental dalam tradsisi Arab saat itu.

Misi kemanusiaan ini dilanjutkan kembali oleh Khalifah Abu Bakar maupun Umar ibn Khattab. Keduanya menjalankan pemerintahan berdasarkan pada prinsip dan kebijakan yang diambil Nabi SAW.  Pada masa Umar misalnya dapat dicatat kreartifitas budaya di antaranya kebijakan pertanahan. Dalam hal ini, ia membuat kebijakan baru, bahwa orang Arab tidak boleh melakukan transaksi jual beli tanah di luar Arab dengan berbagai pertimbangan (tidak diuraikan di sini). Sayangnya hal ini tidak dapat dilaksanakan secara penuh oleh beberapa kepala daerah (Kufah, Basrah, dan Mesir)  pada masa Khalifah Usman ibn Affan, sehingga menimbulkan protes dari rasa ketidakadilan yang berujung matinya khalifah. Kematian Usman dalam hal ini bukanlah disebabkan faktor nepotisme tetapi disebabkan oleh faktor di atas.[6]

Kehidupan yang harmonis di bawah panji Islam mampu mengeliminir jarak dan ketimpangan sosial antara kehidupan penduduk perkotaan (Quraisy) dan masyarakat pedalaman (suku-suku terpencil) yang tinggal di gurun pasir yang tandus. Meskipun demikian, tidak dapat dipungkiri dalam perjalanan selanjutnya pengaruh kehidupan sukuisme yang keras dan kuat masih tersisa, sehingga tidak dapat dihilangkan secara total. Untuk itu usaha penyatuan dua kehidupan yang berbeda tetap terlihat sejak awal, bahkan kemudian hari kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang berbeda di daerah-daerah taklukan seperti Syam, Iraq, Persia, India, Afrika Utara, Andalusia, dan sebagainya menghambat perluasan wilayah dan menegakan  sistem pemerintahan.

Terlepas dari problem tersebut, amat mengherankan jika memperhatikan sejarah ekspansi Islam dalam kurun waktu yang relatif singkat (abad VII-VIII M), di mana para mujahid Islam dengan jargon “hidup mulia atau mati syahid”[7], mengalahkan kekuatan besar Sasaniah. Dengan waktu yang tidak lama, kekuatan Sasaniah yang megah dan berwibawa  hancur di tangan mujahidin Islam dan berdiri pemerintahan Muslim di Persia.  Kekuatan yang kedua dari super power, Romawi yang sangat disegani dunia. Setelah melalui perjuangan yang panjang dan melelahkan, akhirnya sampailah umat Islam ke pusat politik mereka, yakni Konstantinople yang  jatuh (29 Mei 1453 M) dan tunduk pada pasukan Islam.[8] Pengaruh budaya dari kedua super power sangat signifikan dalam sejarah Islam. Sistem pertanahan yang penuh keadilan dan ketahanan era Umar I dan cara pem-bagian kembali harta kekayan (mal al-ghanimah) periode al-Khulafā  al-Rāsyidūn tidak bertahan lama.

Terbukti semasa Umayah di Damaskus, perubahan secara drastis terjadi akibat penerapan monarki dan sistem penentuan putra mahkota dari satu klan/suku.Dengan pindahnya pusat kekuatan politik mereka dari Madinah ke Damaskus via Kufah, pengaruh Bizantium (Syam) menjadi dominan, namun kedudukan dan kharisma kota Mekah-Madinah tidak berkurang. Walaupun pengaruh dominasi politik kedua kota suci itu berkurang, namun sebenarnya semasa Umayah I, di kedua kota suci itu berdiri kekhalifahan tandingan di bawah pimpinan Abdullah ibn Zubair selama sembilan tahun.[9]

Kekhalifahan Umayah tidak dapat bebas dari pengaruh hegomoni kekeluargaan (monarki) dan  sukuisme. Konflik kesukuan terlihat kembali dalam era ini yaitu pertikaian kembali antara  suku Himyar dan Mudhar, padahal sebelumnya mereka telah disatukan oleh Nabi. Jika khalifah terikat dengan pertalian perkawinan dengan suku tertentu, pengaruh suku itu yang sangat dominan dalam pengendalian pemerintahan dan kemiliteran. Sesunggahnya, kalau  pertikaian antar suku pada era ini  ditinggalkan, maka periode Umayyah akan tercatat sebagai periode  yang lebih gemilang dalam sejarah.

            Patut dicatat bahwa, karena pengaruh propaganda Abbasiyah yang negatif  dan pe nulisan buku-buku sejarah pada era ini terhadap  Umayah, periode Umayah menjadi ku-rang menarik, padahal periode ini adalah periode yang paling dinamis dan banyak memperluas jaringan penyebaran Islam. Bagaimana tidak, dalam  waktu yang relatif singkat, peta Islam meluas sampai Eropa Barat Daya di Barat, sedang di Timur menyentuh jantung India. Selain itu mereka menyebrangi pegunungan Pirenia untuk berhadapan dengan kesatuan kekuatan Eropa di Tours (732 M).  Perkembangan budaya sangat tampak. Kota-kota seperti Mekah, Madinah, Kufa, Basrah, dan Damaskus menjdi pusat  dialog dan pembelajaran al-Qur’an, Hadis, bahasa dan sastra Arab, qawaid, dan ilmu keagamaan yang memberikan pengaruh positif nantinya  pada era  Abbasiah di Baghdad.[10]

Patut disayangkan, Bani Umayah mempunyai kecenderungan nasionalisme Arab, di mana dampak negatifnya terjadi diskriminasi dan tidak dapat keadilan terhadap kaum mawali kecuali masa kepemimpinan  Umar II,[11] namun dalam penaklukan dan perluasan wilayah, peran vital dan dukungan kaum mawali  tidak dapat diabaikan dalam kebudayaan Sikap Umayyah dimanfataakan lawan poltiknya sehingga menggoyahkan kekuatan mereka  dan  memunculkan gerakan baru dengan semangat ashabiyah yang baru [12] yaitu Abbasiyah[13] dengan mengedepankan identitas suku Hashimiyah. Mereka berhasil menjatuhkan kekuatan Umayah atas bantuan mawali terutama dari Persia dan Khurasan, maka segera posisi dan peran vital bangsa Arab diambil alih oleh Persia dan Turki dalam bidang politik maupun pengembangan budaya.

Kekuatan para amir, wazir, dan tentara bayaran dari Turki di kemudian hari menyebabkan para khalifah Abbasiyah menjadi boneka mereka dan sekaligus menjadi  penyebab kemunduran dan kehancuran Abbasiyah. Akhirnya, wilayah kekuasaan di Asia Tengah, Asia Selatan, Persia, Syam, Mesir, Afrika Utara, dan Andalusia menjadi merde-ka atau setengah merdeka. Tetapi kedudukan khalifah sebagai “bayangan Allah di muka bumi-Nya” tetap diyakini karena  memperkuat mereka dalam ikatan  spiritual. Para sultan dan kepala daerah sangat memerlukan legitimasi pengakuan khalifah untuk menjadi  sultan yang sah dan mempunyai dasar hukum yang kuat.[14]

Era Abbasiyah dikenal sebagai masa kemasan Islam, era ini mempunyai signify-kansi yang tinggi dalam hal pengembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan. Betapa tidak, dalam waktu sekitar satu-dua abad lamanya khazanah ilmu pengetahuan baik dari Timur (India-Persia) maupun dari Barat (Yunani) telah dikuasai Islam. Hal ini terbukti dari berdirinya berbagai pusat kegiatan ilmu pengetahuan. Di antara yang paling terkenal adalah Bait al-Hikmah di Baghdad, di Kairo  berdiri Dār al-Hi-mah, sebagai  pusat intelekktual Kekhalifahan Fatimiah yang dikembangkan pada  era Khalifah al-Aziz dan  Hākim bi Amrillah[15]. Ilmu-ilmu terutama falsafah Yunani yang mengalami kemajuan pesat atas jasa pusat-pusat penerjemahan baik yang terdapat di Baghdad maupun di Kairo, Babilonia, dan sebagainya. Khazanah keilmuan Yunani yang hampir punah telah dipelihara dan dikembangkan oleh sarjana-sarjana muslim terkemuka. Selalin itu, per-kembangan keilmuan secara pesat juga terjadi melalui Sisilia dan kota-kota penting  pusat ilmu pengetahuan di Andalusia seperti Cordova, Seville sejak Abd al-RamahmanIIsampai puncaknya semasa al-Hakam II, di mana Qasar al-Zahra’[16] menjadi sentra pengumpulan sarajana-sarjana Timur dan Barat.[17] Melalui Andalusialah ilmu pengetahuan nenek moyang Barat yang sudah hamper hilang, ditemukan kembali. Oleh karena itu  pengakuan Barat;“dunia Barat sangat berhutang budi pada Islam”, benar terbukti.

 

C. Dialog dan Akulturasi Kebudayaan

 

Awal Abad Pertengahan sering dianalisis kalanagan sejarawan sebagai masa ke-munduran Islam. Menurut penulis, apabila dilihat secara cermat, dapat ditarik kesimpulan bahwa pasca kehancuran Baghdad justru Islam berkembang dengan pesat.  Walaupun Abad Pertengahan dimulai sejak kehancuran Baghdad oleh bangsa Mongol selama tiga tahun masa ini terjadi kevakuman kekhalifahan sehingga dunia Islam bagaikan ternak tanpa pengembala.[18] Atas  peran garis keturunan Chengis dan Hulagu Khan yang  sebelumnya telah masuk Islam  secara sukarela, Islam kembali mengalami kelanjutan perkembangan baik secara keilmuan maupun perkembangan sufistik secara  dinamis.  

Hal ini dapat dilihat dari tampilnya Dinasti Mamluk (1249-1517 M) sebagai pahlawan garda depan dengan bantuan dari Barke (cucu Chengis dan Sepupu Hulagu Khan) dan mampu menyelamatkan serangan Mongol II di Ain al-Jalūt, sekaligus penye-lamat institusi Kekhalifan Abbasiyah. Hal yang menarik dan tidak kalah pentingnya adalah saat-saat genting justru muncul dinasti-dinasti Islam dari darah dagingnya Chenggis Khan. Para pahlawan Islam dari kalangan Mongol tersebut masuk Islam secara sukarela dan sadar. Mereka berada di garis keturunan ketiga anaknya yaitu; Caghthai, Joshi, dan Touly yang kemudian memainkan peran politik keagamaan yang vital.

            Di Awal Abad Pertengahan, mereka melahirkan tiga dinasti besar Islam(Chaghth-ai,Golden Hordé,dan Ilkhan) yang daerah kekuasaannya melebihi dari sejarah kekuasaan dinasti Islam yang pernah ada. Islam menyebar di tengah-tengah bangsa Mongol melalui proses yang unik dan berbeda dengan kawasan di belahan dunia lain. Persentuhan kalang-an Mongol dengan dunia Islam memang diawali dari hubungan yang kurang harmonis. Hal itu, terlihat dari usaha gigih dari Chengis Khan untuk menguasai dunia. Ia menghan-curkan[19] kekuasaan-kekuasan dan entitas politik yang lain agar tunduk dan men-jadi bagian dari ‘nasionalisme’ yang ingin ia ciptakan, yaitu ‘nasionalisme’ bangsa Mongol.

Namun setelah itu, terjadilah perkembangan  kota-kota penting sebagai pusat pendidikan dan peradaban Islam: Tabriz, Samarkand, Bukhara, Ishukkul, dan sebagainya. bahkan Sārāi Baru, ibu kota Golden Hordé (didirikan oleh Berke) menjadi  pengganti Baghdad.[20] Di sini dibangun obsevatarium yang megah untuk menditeksi angkasa luar yang dapat disejajarkan dengan Bait al-Hikmah maupun Dār al-Hikmah, terutama dalam hal kegiatan ilmu pengetahuan dan ilmu Astronomi. Setelah kehancuran Sārāi Baru (oleh Tīmur Lāng) dan selanjutnya peran kota tersebut diambil oleh Tabriz[21].

Sebagai catatan, Islam benar-benar membuktikan bahwa ia memberi jaminan keamanan kepada rakyat. Contohnya kota Tabriz semasa Ghazan Khan (1295-1304 M), di mana pada malam hari pun para pedagang dan pelancong dari mancanegara dapat berjalan tanpa ragu-ragu atau ketakutan. Padahal sebelumnya siang haripun rakyat merasa ketakutan dan tidak aman di kota itu. Di samping penyebaran Islam, jaminan keamanan, pembrantasan KKN, terjadi pembaruan di berbagai bidang terutama ekonomi  yang sangat mengagumkan,[22] maka Ghazan Khan dijuluki sebagai Umar II di kalangan bangsa Mongol Islam. Sebagai catatan Kota budaya  Baghdad yang dihancurkan oleh Hulagu Khan, 40 tahun kemudian semasa cucunya yaitu Ghazan Khan menjadi pelindung Islam yang sangat disegani dunia di mana ia jadikan kota Tabriz, sebagai kota metropolitan yang paling maju pada (akhir dan awal) abad XIII-XIV M.Contoh lain adalah, Islam berhasil dalam menanamkan anasir ajaran tauhid di kalangan Mongol. Peristiwa tersebut menarik untuk dikaji lebih dalam (dalam kesempatan lain), karena bangsa Mongol adalah suku bangsa yang besar dan memiliki pengaruh signifikan di kawasan Persia, Asia Tengah, Asia Barat Laut, Eropa Timur, dan sekitarnya.[23]

Sementara itu di Indonesia, menurut laporan yang ditulis oleh Cheng Ho (seorang anggota Perutusan Tionghoa tahun 1413 [C], pada tahun sekitar awal abad XV M di pesisir utara telah ada pemeluk agama Islam yang dinyatakan mereka itu berpakaian bersih, sedangkan  yang tidak memeluk agama Islam kelihatan kotor.[24] Kemudian disebut pula bahwa pada tahun 1400 tercatat Mukamad Sakendar Shah (nama Arab menurut ucapan orang Jawa), sebagai putra dari raja Parameswara yang dinyatakan berasal dari Blambangan (Jawa Timur). Dengan nama itu terlihat bahwa ia telah memeluk agama Islam.[25] Sementara itu di Sumatera telah ada negeri Islam yang disebut dengan Peureulak (Perlak),[26] sebagai pusat penyebaran Islam di Pelabuhan Sumatera Utara.

Dengan demikian dapat diyakini bahwa Islam sudah menyebar di pesisir utara Jawa dan Sumatera pada akhir abad XIV M yang penyebarannya dimulai abad XIII M, dalam arti penyebaran yang dilakukan oleh kelompok sosial, sedangkan secara individual kontak budaya itu diperkirakan berlangsung sejak abad VII M.[27] Menjelang abad XV M, disebutkan bahwa pelajaran al-Qur’an terdengar di surau-surau dengan pelajaran-pelajaran agama Islam, meliputi ilmu akaid, ilmu fiqh, dan ilmu akhlak, yang menunjukkan ajaran moral Islam sudah diberikan sejak dini.[28]

Penyebaran Islam sejak abad XIII M dilakukan oleh para pedagang yang datang dari pantai Malabar [29]) dan Karamondel. Faktor ini dapat dikatakan bahwa Islam yang dibawa oleh para pedagang tersebut adalah agama Islam yang sudah tersebar di pantai-pantai tersebut. Dari kenyataan itu dapat diduga bahwa agama Islam yang masuk ke Indonesia sudah tercampur dengan budaya Parsi dan India yang banyak dipengaruhi oleh aliran Syi’ah.[30]

Hal ini diperkuat dengan adanya beberapa hasil budaya yang ikut berkembang di Indonesia seperti bedug di masjid yang digunakan sebagai tanda masuknya waktu shalat, mendahului suara adzan, yang terlihat di dusun-dusun atau di kota, tetapi bedug tidak didapati di masjid-masjid yang dibangun oleh gerakan-gerakan pembaruan.

Di Jawa Timur, terdapat upacara sedekah sirr yang dilaksanakan sesudah Isya hingga sebelum tengah malam, dengan membaca bacaan (tertentu) yang tujuannya untuk meminta keselamatan dengan perantaraan Syekh Abdul Qadir Jailani. Ritual seperti itu jelas merupakan pengaruh dari murid-murid Abdul Qadir Jailani yang ada di pantai Malabar (Gujarat) secara khusus dan India secara umum. Di samping itu juga didapati dzikir yang dibaca sesudah adzan hingga menjelang iqamah pada shalat Maghrib dan Subuh. Dzikir itu mengandung pengertian bahwa lima orang yang selamat dari neraka adalah: al-Mustafa yang dimaksud ialah Nabi Muhammad saw, anak perempuannya yaitu Fatimah, al-Murtadha yaitu Ali, dan kedua orang putera laki-lakinya, Hasan dan Husain. Dzikir itu disuarakan secara keras bersama-sama dengan lagu-lagu tersendiri, menggunakan bahasa Arab.[31] Anehnya, yang melakukan dzikir itu secara de jure (secara hukum) adalah penganut ahli Sunnah wal Jamaah. Mengapa sampai terjadi pembacaan dzikir yang sebenarnya berasal dari penganut-penganut Syi’ah? Entah mereka itu menyadari maknanya atau tidak, yang jelas imam di tiap-tiap jamaah tidak memberi komentar terhadap pengamalan dzikir itu.

Ahli sejarah menjelaskan, masuknya Islam ke Peureulak (Perlak) dan di pantai utara pulau Jawa melalui proses mission sacrée yaitu proses dakwah bi al-hal yang diba-wakan oleh para muballigh ataupun da’i yang merangkap tugas menjadi pedagang.[32] Pro-ses itu pada mulanya dilakukan secara individual. Mereka melaksanakan kewajiban-kewajiban syari’at Islam dengan menggunakan pakaian bersih dan memelihara kebersih-an badan, pakaian, dan tempat tinggal serta rumah-rumah ibadahnya.[33] Dalam pergaulan hidup mereka menampakkan sikap sederhana, dengan tutur kata yang baik dan sikap yang sopan, sesuai dengan tuntutan al-akhlaq al-karimah, jujur, suka menolong, terutama ikut memberikan pengobatan-pengobatan terhadap orang yang sakit, suka menolong orang-orang yang ditimpa kecelakaan tanpa pamrih.[34] Mereka mengajarkan hidup yang baik, pemeliharaan kebersihan, hidup hormat-menghormati, tolong-menolong, hidup ber-masyarakat, manyayangi alam tumbuh-tumbuhan dan binatang, memahami makna dan ar ti alam sekitar, melakukan kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan pada Maha Pencipta, serta melakukan amal yang baik dan menghindari perbuatan yang jahat, agar mereka mendapat kebahagiaaan dalam alam kehidupan yang abadi di kampung akhirat.

 Sikap seperti itu menjadi daya tarik bagi penduduk pribumi yang pada saat itu memeluk agama Hindu atau Budha. Mereka tertarik akan kepribadian kaum muslim, sehingga mereka melihat adanya cahaya iman pada kaum muslim itu dan menarik mereka itu memeluk agama Islam. Dengan demikian para penguasa menilai bahwa ajaran-ajaran Islam tidak mengganggu stabilitas pemerintahan, bahkan ikut memperkuat ketahanan pemerintahan dan mempererat persatuan.[35]

Kecakapan ilmu pengetahuan pengobatan mereka dapati dari tuntutan hadis Nabi Muhammad mengenai obat-obatan, seperti dituturkan dalam kitab Zad al-Ma’ad susunan Ibn al-Qayyim.[36] Ada di antara kaum muslim yang berani memenuhi sayembara yang diadakan oleh raja dengan janji bahwa, barangsiapa yang dapat mengobati puterinya, apabila dia (sang tabib) itu perempuan, akan dijadikan saudara dari puteranya yang disembuhkan itu, akan tetapi apabila laki-laki, akan dijadikan menantu. Kisah seperti ini banyak ditayangkan dalam ketoprak-ketoprak, semacam komedi di pedusunan.     Sebenarnya keberanian kaum muslim memberikan pengobatan, bukan mengharapkan janji yang diberikan oleh raja tersebut, tetapi semata-mata didorong oleh kesadaran keagamaan, untuk memberikan pertolongan sesuai dengan kemampuan. Usahanya itu mendapat bantuan dari Allah dan pengobatan pun berhasil dengan gemilang.[37] Melalui proses seperti itu, ada di antara kaum muslim yang menjadi raja di suatu daerah, bukan dengan jalan kudeta (coups d’etat). [38].

 

D. Kesimpulan

 

 Makna kultural sejarah Islam terlihat dari pola integrasi dan akulturasi budaya Islam dengan budaya setempat. Kejadian dapat diamati sejak Umar ibn Khattab, fase akulturasi budaya atau pemikiran Islam selanjutnya dilakukan dengan akulturasi  dalam aturan-aturan kemasyarakatan yang terdapat di berbagai wilayah. Dalam perkembangan selanjutnya pola pemikiran Isoteris Timur dan Eksoteris Barat, tidak semuanya diambil atau ditinggalkan oleh Islam. Kekuatan akulturasi Islam juga terjadi dalam penyebaran  Islam di kalangan Mongol, bangsa ini yang semula dikenal memiliki karakter kasar, bengis, penghancur peradaban, akhirnya keturunan dari tiga anaknya Chenggis Khan masuk Islam dan mendirikan dinasti-dinasti Islam. Mereka telah berhasil menciptakan peradaban yang gemilang di segala bidang seperti sistem politik, hukum, budaya, militer, seni, dan ilmu pengetahuan. Pada tahap ini, mereka berhasil melakukan proses akulturasi dan sinkretisme antara kebudayaan lokal (baca: Mongol) dengan unsur baru yaitu Islam. Jasa dinasti-dinasti mereka menjadi saksi sejarah bahwa Islam  masih eksis dengan tegak di Asia Tengah

 Islam yang datang ke Indonesia melalui pénétration pacifique. Modal inilah yang  melahirkan kontak budaya dalam berbagai macam kegiatan. Islam yang muncul di perairan Nusantara mampu dengan cepat beradaptasi, sehingga tidak memunculkan benturan budaya (shock culture) dengan adat dan tradisi lokal yang sudah ada sebelumnya. Dalam hal ini, tidak terjadi  hegomoni kekuasaan, tetapi melalui pendekatan sosial dan proses pengadopsian terhadap budaya setempat.

 

Bibliografi

 
Aboebakar. Sejarah al-Qur’an. Jakarta: Sinar Pujannga. Cet. III 1952.
Ahmed, Ashrafuddin. Maddhyajuger Muslim Itihash(1258-1800). Dhaka: Capyoniksa Press, 2003.
 Ali, A. Mukti. The Spread of Islam in Indonesia. Yogyakarta: Yayasan “Nida”. 1970.
Ali, K. History of India, Pakistan and Bangladesh. Dhaka: Ali Publication, 1980.
------------Islamer Itihash. Dhaka : Ali Publication, 1993.
-----------.Muslim wa Adhunik Bissher Itihash.  Dhaka: Ali Publication, 1969.
Ali, Sayyed Amir A Short History of The Saracens. London: MacMillan & Co., 1951.
Arnold, Thomas W. The Preaching of Islam: A History of Muslim Propagation of The Muslim Faith (Lahore: Sh. Muhammad Ashraf, 1968.
Bakhsh, Khuda. Politics in Islam. Delhi:Idara-e-Adabiyat-e-Delhi, 1975.
Berg, H. J. van den.  Dari Panggung Peristiwa Sejarah Dunia, terj. H. Koeskam I. P. Siman-djoentak. Jilid I.  Jakarta: J. B. Walters, 1951.
Friedrich, Carl J. Revolution.  New York: Atherton Press, cet. iii, 1969.
Al-Haddad, Sayed Alwi B. Tahir Sejarah Perkembangan Islam di Timur Jauh, Terj. Dziya Shahab. Jakarta: al-Maktabah Addaimi, 1957.
Hamka, Sedjarah Umat Islam. Jakarta: Nusantara,1949.
Hasan, Sayed Mahmudul. Islamer Itihash. Dhaka: Golob Library , 1975.
Al-Jauziah, Imam Ibn Qayyim Zad al-Ma’ad fi Hadyi Khair al-‘Ibad Muhammad Khatim al-Nabiyyīn wa Imam al-Mursalin, Jilid III.Kairo: Mathba’ah al-Mesriyah,1379H.
Hitti, Philip K. History of The Arabs. Terj. R. Cecep Lukman Yan dan Dedi Slamat Riyadi. Jakar-ta: Seranbi, 2005.
Husaini, S. A. Q. Arab Administation, Madras: Soldent & Co. 1949.
Imamudin, S. M. A Politrical Hiostory of Muslim Spain. Dhaka: Nazmah&Sons Ltd.,1969.
Lembaga Research Islam Malang. Sejarah dan Dakwah Islamiyah Sunan Giri. Malang: 1975.
M. Abdul Karim, Islam. Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam. Yogyakarta: Pustaka Book Publishers, cet.2, 2009..
--------------.Islam Nusantara. Yogyakarta: Pustaka Book Publishers, 2007.
--------------.“Ghazan Khan Pemimpin Besar Mongol Islam” dalam Jurnal Millah, Vol. V,   No.2,2006.
---------------. Islam di Asia Tengah: Sejarah Dinasti Mongol-Islam. Yogyakarta: Bagaskara,2006.
----------------. Islam  dan Kemerdekaan Indonesia: membongkar marjinalisasi peranan Islam dalam perjuangan Kemerdekaan RI ( Yogyakarta :Sumbangsi Press, 2005.
 ----------------.Sejarah Islam di India. Yogyakarta:Bunga Grafies, 2003.
--------------.“Kontribusi Muhammad Bin Qasim Dalam Penaklukan Sind” dalam l Thaqāhfiyyāt  Vol 2, No. 2 tahun .2001.
--------------. “Persoalan Agama Dalam Perang (Perspektif Histories)” dalam Jurnal Thaqafiyyat, Vol.4, No.1 Januari-Juni 2003.
Kaya, K. P. Dakkhin Bharate Muslim Missionari Terj. Abul Quasem Bhuiyan. Faridpur: Islamic Cultural Center, 1980.
Kennedy, Hugh The Great Arab Conquests. Tangerang : Pustaka Alvabet, 2007.
Lambton, Ann K .S. Continuty and Change in Mediaval Persia. London: I. N. Tauris& Co.LTS, 1988.
Lembaga Research Islam Malang, Sejarah dan Dakwah Islamiyah Sunan Giri. Malang: 1975.
Lewis, Bernard.  Islam  From the Muhammad to The Capture of Constantinopel.New York:The Macmillan Press,1974.
Muslim, Imam. Sahih Muslim, Jilid I. Surabaya: Syrkah Maktabah Ahmad bin Sa’ad bin Nabhan wa Auladuh, t th.
Nainar, S. Muhammad Husen. Islam di India dan Hubungan-hubungannya dengan Indonesia. Jakarta: Information Service of India, 1956.
Panitia Seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia, Risalah Seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia: Medan, 1963.
Rahman, Shekh Muhammad Lutfar, Islam: Rastra O Samaj .Dhaka: Bangla Academy, 1977.
Ricklefs, H. C., Sejarah Indonesia Modern, Terj. Dharmono Hardjowijono. Yogyakarta: Gadjahmada University Press, 1983.
Soekmono, R. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia, Jilid III. Yogyakarta: Yayasan Kanisius, cet. viii, 1973.
Spuler, Bertold. History of The Mongol. London: Routledge & Kegan Paul,1972.
Watt, W. Montgomery. The Influence of Islam on Mediavel Europe. Edinburg University Press, 1972.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 


 [1] disampaikan dalam Widisium / Pembukaan Kkuliah  Klas Q, MSI UII Yogyakarta di Lasem, 6 Februari 2011.
          [2] adalah Guru Besar Sejarah Islam (tetap di UIN Sunan Kalijaga) UII, UGM Yoyakarta, dan UMS Solo
         [3] Hamilton Alexander Rosskeen Gibb (ed.), Whither Islam? A Survey of Modern Movement in The Moselem World (London: Victor Gollanz Ltd.,1932), hlm.12.
        [4] Hugh Kennedy, The Great Arab Conquests (Tangerang : Pustaka Alvabet, 2007), hlm. 1.
         [5] W. Montgomery Watt, The Influence of Islam on Mediavel Europe (Edinburg University Press, 1972 ), hlm 76-77.
          [6] S. A. Q.  Husaini,  Arab Administation ( Madras: Soldent & Co. 1949) hlm. 41-42, Khuda Bakhsh, Politics in Islam (Delhi:Idara-e-Adabiyat-e-Delhi, 1975), hlm. 30-35, dan M. Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam (Yogyakarta: Pustaka Book Publishers, cet. 2, 2009 ), hlm. 99-105. 
[7] Jargon ini diadopsi oleh pejuang kemerdekan RI yaitu “merdeka atau mati” adalah terjemahan singkatan dari jargon bahasa Arab ísy karīman aw mut syahidan yang  sering dikumandangkan oleh para pejuang kemerdekaan RI,  terutama membakar semngat kaum muslim ketika  bergerilya di bawah koman-do K. H. Masjkur sebagai salah satu  Panglima Sabilillahm: M.Abdul Karim, Islam  dan Kemerdekaan Indonesia: membongkar marjinalisasi peranan Islam dalam perjuangan Kemerdekaan RI (Yogyakarta :Sumbangsi Press, 2005), hlm.104.
[8] K. Ali, Muslim wa Adhunik Bissher Itihash  Dhaka: Ali Publication, 196), hlm. 9135-141.
[9] Philip K. Hitti, History of The Arabs, terj. R. Cecep Lukman  dan Dedi Slamat  Riyadi (Jakarta: Serambi, 2005), hlm.330, Shaikh Lutfar Rahman, Islam ( Dhaka Bangle Academy, 1977), hlm.81-97, dan Karim, Sejarah, hlm., 365-366.
[10] Karim, Sejarah, hlm.366-367.
[11] Sistem Umar II  penuh dengan keadilan, kemanusiaan, dan revolusioner, memetik hasil bahwa orang  mawali yang tinggalkan sawah karena kelaliman para dinas pajak Hajjaj Ibn Yusuf dengan pungutan  tinggi, menyebabkan mereka memusuhi pemerintah. Kebijakan Umar II merangkul mawali, maka berkurang jurang antara Arab dan non-Arab. Jadi pada masanya ajaran Islam -tidak ada kedudukan orang Arab melebihi orang-orang non Arab- ditegakkan dengan tegas. Periode Umar II terkenal dengan Negara yang aman, tentram, tanpa huru-hara, dan tanpa perang: Husaini, Arab,  hlm. 133-134 dan Rahman, Islam, hlm. 92-93.
[12]  Dalam teori Ibn Khaldun, ashabiyah adalah; “semangat kesukuan yang melampoi hubungan darah”:Rahman, Islam, hlm 2-3.
[13] yang sejak masa Khalifah al-Mansur (754-775 M), adanya perubahan yang drastis dalam institusi kekhalifahan Islam. Corak kekahlifahan  Abbasiyah diubah dari sebutan“khalifah”  -pengganti terdahulu, dengan corak republik di mana para khalifah al-Khulafā al-Rāsyiūn sangat membutuhkan pengakuan rakyat sebagai legitimasi kekuasaan, begitu juga pra penguasa Umayah-  menjadi Khalifatullah (penggan nti/wakil Allah). Mereka tidak membutuhkan pengakuan rakyat atau dengan kata lain; rakyat yang membutuhkan khalifah dan sistem/corak kekhalifahan ini berlanjut sampai berakhirnya Kekhalifahan Turki Usmani (1924 M):Husaini, Arab, hlm.174-175 dan M. Abdul Karim, Islam di Asia Tengah:Sejarah Dinasti Mongol Islam (Yogyakarta:Bagaskara., 2006), hlm.19.
[14] bahkan para  sultan dari Kesultanan Delhi masih membacakan nama Khalifah Abbasiyah terakhi r dalam khutbah Jum’at selama 40 tahun, meskipun ia telah terbunuh dalam serangan bangsa Mongol, pimpinan Hulagu Khan di Baghdad (1258 M).
[15] ahli angkasa luar yang paling terkenal pada Abad X-XI M menggunakan kantornya di Pegunungan Mukattam. Khalifah biasanya memutuskan perkara pada jam tiga pagi. Menurutnya otak manusia dapat lebih subur pada malam hari dari pada siang hari. Oleh karena itu ia mengeluarkan dekrit agar semua aktivitas sehari-hari termasuk kantor dan sekolah dilarang pada siang hari melainkan harus malam hari dan ini terlaksana selama tujuh tahun, dalam bahasa  Lewis ” Thursday, the whole court attended in the early morning at the palace”:Bernard Lewis Islam  From the Muhammad to The Capture of Constantinopel (New York:The Macmillan Press,1974), hlm.74 dan lihat Karim, Sejarah , hlm.204
[16] Pusat aktivitas ilmiah dan pertahanan terdiri dari 5,000 pavilion  terletak 5 mil di sebelah timur laut ibu kota, Cordova (luas kota Zahra’ ini sekitar 52 KM persegi) dibangun selama 40 tahun dengan 10,000 tenaga kerja setiap hari, sebagai bukti nyata untuk mengabadikan cinta dan kasih sayang Khalifah Abdur Rahman III (912-961 M) terhadap permaisuri Fatimah Zahra’ yang wafat tahun 936 M. Hal yang sama juga dilakukan oleh Hājib al-Mansūr yang membangun Qasar al-Zahirah di tepi kota Cordove atas cintanya terhadap istrinya yang bernama Zahirah: SM Imamuddin, A Political History of Mudlim Spain ( Dhaka: Nazmah& Sons LTD.,1969), hlm 201 dan 216.
[17]the general level of  learning in Andalucia was so high at this time [Hakam II 961-976 M] that  nearly everyone could  read and write, whilist in Christian Europe persons in most exalted positions – unless they belonged to the clergy- remained illiterate: Reinheart Dozy,  Spanish Islam (London:Chatto & Winds, 1913), hlm.455.Kota Cordova popular dengan predikat lain “kota buku”, dalamnya terdapat seban-yak 20,000 toko buku semasa Khalifah Hakm II dan ia paling menyukai buku sebagai hadiah atau beli buku/ naskah yang tidak ada di perpustakaan pribadinya, yang terdiri dari 600.000 naskah: Imamuddin, A Political, hlm.178-183.
            [18] Bertold Spuler, History of The Mongol (London: Routledge & Kegan Paul,1972), 115-125. Lewis , Islam, mencatat: ”saat istana khalifah  [Baghdad] dikepung tentara Mongol, Khalifah Abasiyah terakhir, al-Mu’tasim Billah sedang tengelam dalam menikmati tarian erotis dari penari Urfa”.
            [19] total sebanyak 21 dinasti, baik non-muslim maupun muslim:Ali, Adhunik, hlm. 4.
            [20] Ashrafuddin Ahmed, Maddhyajuger Muslim Itihash(1258-1800) ( Dhaka: Capyoniksa Press, 2003), hlm. 87-88.
[21] Karim, Islam di Asia, 71-72.
[22] Ann K .S. Lambton, Continuty and Change in Mediaval Persia (London:I. N. Tauris&Co. LTD, 1988), hlm. 184
[23] M. Abdul Karim, “Ghazan Khan Pemimpin Besar Mongol Islam” dalam Jurnal Millah, Vol. V, no.2, 2006, hlm.+315-322
[24] Thomas W.Arnold, The Preaching of Islam: A History of Muslim Propagation of The Muslim Faith (Lahore: Sh. Muhammad Ashraf, 1968), hlm. 383, Hamka, Sejarah Umat Islam (Jakarta: NV. Nusantara, 1961), hlm. 684, dan R. Soekmono, Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia, Jilid III (Yogyakarta: Yayasan Kanisius, cet. viii, 1973), hlm. 46,.
[25] H. C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern, terj. Dharmono Hardjowijono (Yogyakarta: Gadjahmada University Press, 1983), hlm. 28, menyebutkan: “... seorang pangeran dari Palembang bernama Parameswara berhasil meloloskan diri sewaktu terjadi serangan Majapahit pada tahun 1377 dan akhirnya tiba di Malaka sekitar tahun 1400”. Menurut penulis,  ia berasal dari Blambangan (Jawa Timur), sewaktu melarikan diri kemungkinan singgah di Palembang dan seterusnya ke Malaka. Lihat Aboebakar, Sejarah, hlm. 279 – 285 dan baca Hamka, Sejarah, hlm. 699 – 701.
[26] Di [kerajaan] Perlak sering kali nampak para pedagang Arab Muslim (Saracen Marchants). Mereka telah mengislamkan orang-orang pribumi di kota. Pada saat itu, masyarakat pegunungan hidup  seperti kehidupan dunia binatang, mereka makan daging sesama manusia seperti daging-daging binatang dimakan oleh binatang yang lain, meskipun kotor atau bersih itu tidak apa-apa, yang penting mereka menyukainya. Yang paling penting ialah mereka memuja/menyembah matahari. Grosset & Dunlap, The Travels of Marcopolo (New York: t.th.), hlm. 249 – 250.
[27] H. J. van den.  Berg, Dari Panggung Peristiwa Sejarah Dunia, terj. H. Koeskam I. P. Siman-djoentak, Jilid I ( Jakarta: J. B. Walters, 1951), hlm. 382, Aboebakar. Sejarah, hlm. 279, dan Panitia Seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia, Risalah Seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia: (Medan, 1963), hlm. 265.
[28].Aboebakar. Sejarah, hlm. 279 – 285.
[29] Ibid. dan  A. Mukti Ali,. The Spread of Islam in Indonesia. Yogyakarta: Yayasan “Nida”. 1970., hlm. 7 yang diperkuat ketika menjawab pertanyaan peserta S3 IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada tahun 1987 dengan pengalamannya berdebat dengan Hamka sewaktu Seminar Masuknya Islam ke Indonesia di Medan tahun 1963. Lihat juga Panitia Seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia, Risalah, hlm. 85-86,  K. P. Kaya, Muslim Missionaries in South India, terjemahan Abul Quasem Bhuiyan, Dakkhin Bharate Muslim Missionari (Faridpur: Islamic Cultural Center, 1980), hlm. 1–3, dan S. Muhammad Husen Nainar, Islam di India dan Hubungan-hubungannya dengan Indonesia (Jakarta: Information Service of India, 1956), hlm. 9 – 22. Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII (Bandung: Mizan, 1994), hlm. 24 – 31, menyebutkan adanya perbedaan pendapat mengenai dari mana asal kedatangan Islam ke Indonesia, di antaranya adalah dari Anak Benua India, pantai Malabar: Gujarat, pantai Coromandel: Bengal (sebagian besar adalah Negara Bangladesh sekarang), , dan langsung dari Arab.
[30] Arnold, The Preaching, hlm. 368 dan 383, Kaya, Muslim, hlm. 1 – 3, dan Ali, The Spread, hlm. 7. Boleh dikatakan bahwa awal perkembangan Islam di Nusantara banyak berperan adalah orang-orang Syi’ah. Ini dibuktikan dengan sebab pokok invasi Islam ke India (Sind 711-714 M) di mana para pembangkang (Syi’ah) terhadap Dinasti Umayah yang melarikan diri ke India akibat tekanan dan   politik(Gubernur Jendral al-Masyriq, Hajjaj Ibn Yusuf) Umayah terhadap mereka. Kalangan Syiáh ini akhirnya diberi suaka politik oleh Raja Dahir(pengusa Hindu di Sind) yang menolak dikembalikannya para pembangkang ke wilayah asal mereka di Irak. Saat itu tidak hanya mereka bersembunyi di Sind (wilayah Pakistan sekarang), juga sangat mungkin mereka sampai ke Nusantara, di mana sebelumnya hubungan Arab debgan Jaziratul Yaqut (pulau Jawa) sangat harmonis.M. Abdul Karim,”Kontribusi Muhammad bin Qasim dalam Penaklukan Sind”, Thaqafiyat, Vol 2,  no. 2, tahun 2001, hlm. 124-125
[31] Pengalaman penulis menyaksikan upacara-upacara seperti itu di Pasuruan dan Situbondo pada tahun 1987. Hal demikian juga terlihat di Bangladesh secara umum.
[32] Sayed Alwi B. Tahir al-Haddad, Sejarah Perkembangan Islam di Timur Jauh, terjemahan Dziya Shahab (Jakarta: al-Maktabah Addaimi, 1957), hlm. 112 – 114 dan Panitia Seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia, Risalah Seminar, hlm. 147.
[33] Arnold, The Preaching, hlm. 383, Grosset, The Travels, hlm. 249-250, dan Hamka, Sejarah, hlm. 684.
[34] Azra, Jaringan, hlm. 33 dan M. Abdul Karim, Islam Nusantara (Yogyqkarta: Pustaka book Publishers, 2007), 44-46
[35] Karim, Islam Nusantara, hlm., 44-46.
[36] Imam Ibn Qayyim al-Jauziah, Zad al-Ma’ad fi Hadyi Khair al-‘Ibad Muhammad Khatim al-Nabiyyin wa Imam al-Mursalin, jilid III (Kairo: Mathba’ah al-Mesriyah, 1379 H), hlm. 63 – 99.
[37] Arnold, The Preaching, hlm. 383 – 384 bandingkan dengan Lembaga Research Islam Malang, Sejarah dan Dakwah Islamiyah Sunan Giri (Malang: 1975), hlm. 56 – 58.
[38]  Carl J. Friedrich, Revolution (New York: Atherton Press, cet. iii, 1969), hlm. 53 – 74.

 

 

 

 
 

Polls

Bagaimana kemampuan metodologi alumni MSI UII?
 
Apakah perlu MSI UII menyelenggarakan Training Metodologi Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif?
 
Bagaimanakah Layanan Hot Spot MSI UII di Kampus UII Demangan?
 
Alumni MSI UII yang anda kenal, apakah mereka mampu berbahasa asing (Arab dan atau Inggris) ?
 
Apakah hasil FGD BMT perlu dilanjtkan dengan Workshop?