Magister Studi Islam UII

You are here: Home arrow Artikel arrow Artikel arrow DISIPLIN MELALUI PUASA
  • Decrease font size
  • Default font size
  • Increase font size
DISIPLIN MELALUI PUASA | Print |
Thursday, 26 July 2012

ImageOleh Tabrani. ZA Al-Asyhi

Islam merupakan agama yang mengatur hubungan manusia dengan alam dan hubungan manusia dengan Allah SWT. Hubungan manusia dengan Allah SWT diatur secara apik dan komprehensif dalam segudang ibadah. Pelaksanaan ibadah dalam waktu yang telah ditentukan merupakan bagian dari keutamaan dan kesempurnaan suatu ibadah.

Ramadhan adalah bulan ibadah, di mana pahala segala amal dilipatgandakan bahkan ditetapkan jenis ibadah wajib yang khusus hanya dilakukan pada bulan itu saja yaitu puasa. Bertekad meninggalkan sesuatu yang halal dikerjakan di luar Ramadhan seperti makan, minum dan hubungan suami istri dalam batas waktu tertentu merupakan sebuah prestasi luar biasa.

Tidak semua orang mampu menjaga komitmen yang telah dilafazkan dengan lidah dan dialirkan maksud tujuannya di dalam hati sanubarinya. Karena itu, keistimewaan puasa akan sangat terasa jika kita mampu memanfaatkan  setiap detik kehidupan dengan bermacam ibadah, sehingga keistimewaan puasa dapat teraktualisasi dalam kehidupan kita.

Tidak akan bermakna apa-apa bagi kita selama kita sendiri tidak memaknai kekhususan yang terdapat di dalamnya. Puasa dijadikan begitu istimewa seperti dituturkan Allah SWT melalui Rasul-Nya: “Segala amal ibadah anak Adam adalah miliknya kecuali puasa. Ia adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan memberikan pahalanya”. (HR Bukhari).

Dengan segala ‘fasilitas’ dan ‘motivasi’ yang sedemikian itu, diharapkan umat muslim mampu memanfaatkan puasa ini dengan sebaik-sebaiknya untuk melatih  diri sehingga menjadi hamba yang mampu menyelesaikan sesuatunya tepat pada waktunya. Rasulullah SAW bersabda: “Waktu adalah pedang, jika kamu tidak memanfaatkannya maka dia akan memperdayakanmu”.

Memaknai ibadah puasa dalam membentuk jati diri harus cermat dalam mengoptimalkan pemanfaatan waktu, tidak berarti kita berlebih-lebihan pada ibadah puasa ini saja dan untuk ibadah lainnya terabaikan. Karena aktualisasi makna puasa itu justru terdapat dalam ibadah lainnya. Puasa harus menjadi titik tolak perjalanan kehidupan muslim di sepanjang hayatnya.

Dengan kata lain, nilai optimal puasa baru bisa kita dapatkan jika kita menempatkan puasa ini sebagai inspirasi dan momentum untuk mengubah pola pikir dan perilaku kita. Puasa diciptakan oleh Allah lengkap dengan fasilitas dan kemewahannya untuk dimanfaatkan manusia sebagai madrasah kehidupan yang melatih dan mempelajari pola kehidupan yang menghargai waktu.

Puasa Ramadhan adalah ibadah yang sangat memperhatikan kedisiplinan dalam menjaga perjalanan waktu seperti niat berpuasa tidak boleh melebihi waktu terbit fajar dan berbuka puasa juga harus setelah terbenam matahari. Berniat pada malam hari adalah latihan disiplin tingkat awal, sebagaimana firman Allah: “Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai datang malam”. (QS. Al-Baqarah : 187).

Tidak mudah bagi seseorang untuk berdisiplin masalah waktu, bila tidak dibiasakan atau dilatih beribadah tepat waktu. Hanya mereka yang pernah merasakan nikmat ibadah puasa yang bisa ketularan menjadi disiplin. Rasulullah SAW sudah menekankan umat muslim bagaimana kiat untuk belajar disiplin waktu. Dalam sabdanya bahwa; jika hari kita lebih baik dari kemarin kita termasuk orang yang beruntung, akan tetapi jika hari ini kita sama dengan kemarin kita termasuk orang yang merugi. Dan lebih gawat lagi kalau hari ini lebih jelek dari kemarin maka kita termasuk orang yang dilaknat Allah, (HR. Hakim).

Akumulasi dari sebuah komitmen untuk tidak meninggalkan puasa disertai dengan tekad yang kuat untuk mempermanenkannya dan merasa terus diawasi oleh Allah SWT, maka seseorang yang beribadah tidak akan pernah mentolerir pencemaran ibadahnya dengan perilaku yang tidak baik seperti tidak tepat waktu menjalankan tugasnya. Ramadhan adalah momentum yang tepat untuk membangkitkan niat, membulatkan kesungguhan dan optimisme untuk meraih kejayaan dunia dan akhirat. Selamat menunaikan Ibadah Puasa 1433 H, mohon maaf lahir dan bathin.***

*Penulis adalah Peneliti pada SCAD Independent, dan Mahasiswa Magister Studi Islam Program Pascasarjana Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, Alumnus Dayah Darussalam Labuhan Haji Aceh.

 
 

Polls

Bagaimana kemampuan metodologi alumni MSI UII?
 
Apakah perlu MSI UII menyelenggarakan Training Metodologi Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif?
 
Bagaimanakah Layanan Hot Spot MSI UII di Kampus UII Demangan?
 
Alumni MSI UII yang anda kenal, apakah mereka mampu berbahasa asing (Arab dan atau Inggris) ?
 
Apakah hasil FGD BMT perlu dilanjtkan dengan Workshop?