Horor Ekonomi Budak

0
23

Oleh M. Sholihin*

RUYATI memang Malang. Setelah keberangkatannya sebagai TKW tak banyak diketahui oleh orang banyak, kecuali oleh perusahaan yang menjadi agen penyalur dan keluarganya sendiri. Tahun 2008, Ruyati binti Sapubi berangkat ke Arab Suadi sebagai pembantu, melalui jasa PT. Dasa Graha Utama Bekasi.

Tanggal 28 Juni 2011 menjadi hari terakhir baginya untuk melihat matahari terbit. Tepat pukul 15.00 wib, Ruyati dihukum qisas, dipancung dengan tuduhan membunuh majikannya.

Potret Suram

Ruyati adalah salah satu potret dari suramnya nasib tenaga kerja domestik, tidak hanya dari Indonesia tetapi juga dari negara-negara berkembang lainnya. Wanita, anak-anak, tenaga kerja yang tidak memiliki skill khusus adalah kelompok yang paling banyak diserap oleh pasar tenaga kerja domestik di negara-negara maju, dan menjadi kelompok rentan mengalami dehumanisasi ekonomi. Dalam berbagai catatan, di Amerika Latin dan Carribean, 10-18% tenaga kerja perempuan di pekerjakan di sektor pekerjaan domestik. Pembantu, cleaning service, pekerja kebun menjadi profesi mereka.

Arab Suadi tercatat sebagai negara maju yang memiliki porsi paling besar mempekerjakan wanita di sektor pekerjaan domestik, lebih dari 40%. Sedangkan di negara-negara Asia dan Afrika lainnya, seperti Filipina 11%,  Bostwana 11%, Nimibia 12%, dan Afrika Selatan 16%. Nestapa pekerja domestik ini semangkin curam ketika tenaga mereka tidak dihargai.

Upah yang rendah, perlakuan kasar menjadi konsumsi keseharian pekerja domestik. Kendati ada sebagian kecil mereka yang terbilang sukses di sektor ini, tetapi satu kasus perlakuan tak manusiawi, cukup untuk memperburuk citra sektor domestik sebagai ladang ketidakmanusiawian.

Di Costa Rica minsalnya, perempuan yang bekerja di sektor pekerjaan domestik  hanya dibayar rata-rata 40% dari upah yang dibayarkan kepada perempuan yang berkerja di sektor lain. Berbeda dengan pekerja laki-laki, yang  dibayar 15 % lebih besar dari pekerja perempuan di sektor domestik. Sama ironisnya dengan tenaga kerja perempuan di sektor domestik, anak-anak yang dipekerjakan sebagai buruh beberapa dekade belakangan semangkin parah dan terus meningkat.

Ada 175,000 anak-anak  berumur di bawah 18 tahun dipekerjakan di sektor pekerjaan domestik Amerika Tengah, sebanyak 688, 000 anak di Indonesia. Sedangkan di Afrika Selatan, tercatat ada 54,000 anak-anak yang berumur di bawah 15 tahun dipekerjakan sebagai pembantu. Ironis lagi di Guatemala yang mempekerjakan 38,000 anak-anak yang berumur antara 5 sampai 7 tahun sebagai pembantu.

Akar Masalah

Nestapa semangkin mendalam ketika permasalahan akut tak kunjung berubah dan hampir menubuh, selalu mendera pekerja domestik. Baik buruh migran ataupun buruh domestik dalam negeri, tidak pernah jauh-jauh dari masalah ketidakemanusiwian. Tenaga kerja perempuan dengan diskriminasi gender, streotipe fisik yang lemah, kelas kedua masih kuat dilekatkan pada mereka. Tidak kalah ironis, tenaga kerja anak-anak dibelit oleh perlakuan kasar, penetapan jam kerja di luar batas tenaga yang mereka miliki. Potret suram nasib pekerja domestik adalah horor dari ekonomi budak. Ekonomi yang menjadikan uang sebagai satu-satunya satuan nilai.

Ekonomi uang telah merubah cara pandang manusia terhadap manusia lainnya. Semangkin seorang manusia memiliki banyak uang, maka semangkin besar peluangnya untuk membeli kemanusiaan orang lain. Situasi ini digambarkan oleh B. Herry-Priyono dengan tercerabutnya ekonomi dari akar oikonomia, sekadar kebutuhan memenuhi kebutuhan, menjadi ekonomi budak (maid economic). Pada kondisi ini, spirit kemanusian dan ketuhanan yang harusnya tumbuh, digantikan dengan apa yang diistilah oleh J.M Keynes (1883-1946) dengan “animal spirit”. Tidak satu agamapun yang mengajarkan bertumbuhnya “animal spirit” ini. Tetapi entah mengapa, spirit itu terus membesar dan mengancam eksistensi kebertuhanan dalam ekonomi.

Dalam tradisi abrahamic religion seperti Kristen, dan Yahudi, juga dalam tradisi Islam perlakuan kasar terhadap tenaga kerja adalah aktivitas yang dikutuk, apapun alasannya. Pekerja domestik sama dengan profesi lain. Mereka layak diperlakukan secara manusiawi. Muhammad Baqir as-Sadr, seorang ekonom Muslin dari Irak, pendiri mazhab Baqir as-Sadr dalam ekonomi Islam pernah mengarisbawahi dalam bukunya Iqtishaduna, kemanusiaan pada level kehidupan manusia harus menjadi keprihatinan abadi. Otomatis pandangan ini harus diperluas skalanya pada sistem upah yang adil dan manusiawi.

Upah yang rendah melahirkan citra yang buruk terhadap pekerja. Perkataan lain, upah rendah memicu lahirnya kekerasan dan perlakuan tak manusiawi. Upah rendah menjadi stimulus paling aktif menjadikan pekerja domestik sebagai kelas bawah di dalam struktur sosial. Dalam konteks ini Islam tidak pernah melakukan klasifikasi berdasarkan pekerjaan. Kelasi pekerjaan hanya terbentuk dan mapan dalam masyarakat kapitalis. Pada akhirnya melahirkan relasi-relasi eksploitatif dan relasi yang tak manusiawi.

Upah yang Adil

Perlakuan tak manusiawi terhadap pekerja sektor domestik, lahir dari sistem upah yang tak manusiawi. Ini diantisipasi oleh Islam dengan menyerukan sistem upah yang adil. Abi Said r.a pernah meriwayatkan bahwa Muhammad s.a.w melarang mempekerjakan seseorang pekerja hingga gaji yang diperolehnya jelas. Kata “jelas” disini tidak hanya jelas secara nominal. Tetapi ia merupakan satu standar yang pasti dan manusiawi.

Dalam teori upah (the wage theory), ada istilah yang dikenal dengan upah minimun regional tetapi ini tidak dijalankan secara tunggal. Sistem upah harusnya mengacu pada indeks layak hidup. Sebuah batasan minimun upah yang harus dipenuhi oleh seorang majikan dalam menetapkan upah, sesuai dengan tingkat layak hidup di daerah, dimana seseorang bekerja.

Dalam ekonomi Islam sendiri, teori upah dibangun di atas filosofi bahwa manusia diciptakan oleh Allah s.w.t sejajar. Ibnu Khaldun penulis fenomenal kitab muqaddimah, mengembangkannya menjadi teori upah Islami, dimana upah yang didapat oleh seorang manusia bersumber dari keahliannya, sebagai nilai utuh dari kerjanya. Bagi seorang pekerja domestik, keahlian mereka ada pada penyediaan jasa. Keahlian mereka itu layak dinilai dengan upah yang adil. Mengapa demikian?

Pekerja domestik, baik tukang kebun, pembantu adalah profesi yang sejajar dengan profesi lainnya. Keahlian yang mereka miliki, sebagai penyedia jasa, layak disejajarkan dan tidak pantas direndahkan. Bukan pada status sosial mereka sebagai pekerja domestik, mekanisme upah ditetapkan melainkan pada keahlian mereka. Pandangan manusiawi ini agaknya akan menjadi sanggahan yang tepat untuk memangkas horor dari ekonomi budak, yang masih mengacam pekerja domestik.[]

*Mahasiswa Ekonomi Islam MSI UII-Yogyakarta/

Peneliti di CIELWIS (Centre for Islamic Economic and Local Wisdom Studies)