Pemerintah! Cepat Ubah Atau Ganti Sistem Pendidikan Nasional

0
31

Oleh Lukman A. Irfan*

Hasil survei Komisi Perlindungan Anak (KPA) terhadap 4.500 remaja di 12 kota besar mengungkapkan bahwa 97 persen remaja pernah menonton atau  mengakses pornografi, 93 persen pernah berciuman bibir. Sedangkan 62,7 persen pernah berhubungan badan dan 21 persen remaja telah melakukan aborsi. (Ulan Pebriyanah, okezone.com, 10 Mei 2010).

Sangat mengejutkan, mencengangkan dan sekaligus menakutkan, bagaimana bangsa yang mayoritas berpenduduk beragama bisa sedemikian jauh terperosok ke dalam kemaksiatan. Banyak asumsi yang bisa diajukan: (1) orang tua tidak mampu mendidik anak-anak mereka; (2) sekolah juga tidak mampu mendidik mereka; (3) lingkungan pergaulan yang tidak sehat; (4) akses informasi internet yang tidak terbatas dan kurangnya pendampingan dalam mengolahnya; (5) tayangan film, sinetron, iklan yang cenderung memuja hedonism walau diperankan secara antagonis; (6) krisis keteladanan…bagi penulis arah kebijakan pendidikan nasional-lah yang kurang benar.

Sistem pendidikan nasional Indonesia sudah mengalami dinamika yang sangat cepat dan menuntut harga material dan psikologis yang tidak sedikit. Namun sangat disayangkan salah arah atau paling tidak masih kurang benar.

Kok beraninya penulis berpendapat bahwa Sistem Pendidikan Nasional Indonesia kurang benar?

Ya berani saja, lha wong nyatanya outputnya 93 persen pernah berciuman bibir lawan jenis. Dari sisi moral, budaya, dan agama perilaku itu tidak bisa dibenarkan.

Secara sederhana dapat diambil hubungan bahwa Indonesia yang mengadopsi Sistem Pendidikan Barat akan mendapatkan outputsebagaimana dihasilkan oleh Barat juga. He he he sekarang terbukti kan…Bangsa Indonesia sekarang cerdas-cerdas, beradab karena telah menerapkan demokrasi, toleran karena tidak marah melihat kemaksiatan dibeber di muka umum, tidak malu berciuman di muka umum…coba kita buktikan sama-sama…jangan-jangan 3-5 tahun akan datang remaja SMP-SMA berciuman di muka orang tuanya sudah berani…seperti di Barat itu!!!

Owwalah Gusti…yok nopo Indonesia niki…

Kita lanjut…Sistem Pendidikan Nasional salah arah, minimal kurang benar…kesalahannya adalah: (1) Terlalu mementingkan transfer knowledges dan melupakan pendidikan karakter. Buktinya adalah operasionalisasi mengenai standar isi yang dievaluasi dengan Ujian Nasional yang mata pelajarannya sama sekali tidak memasukkan pelajaran pembentukan karakter atau akhlak di semua Jurusan SMA dan SMK. Artinya, perhatian para pengambil kebijakan yang di atas sana tidak care terhadap pendidikan karakter dan akhlak; (2) Program Peningkatan Mutu Guru yang salah arah…contohnya peningkatan mutu dengan kontrol jam ngajar yang 18 jam. Guru menjadi tidak leluasa bereksperimen dengan pendidikan keteladan dan pendampingan, hanya terpaku (sakit ngak ya…he he he) padatransfer knowledges; (3) terlalu mata pelajaran yang belum perlu diajarkan…ini adalah implikasi dari standar isi; (4) Guru dituntut menyusun Analisis Materi Pelajaran (AMP), Program Tahunan (Prota), Program Catur Wulan (Proca) atau Program Semester (Prosem), Program Satuan Pelajaran (PSP), Rencana Pembelajaran (RP), Lembaran Tugas Rumah (PR) dan soal tes. Hal ini menyibukkan guru pada tataran administrasi saja, trus kapan mereka mendampingi anak didiknya??? Semua menjadi formal dibentuk kayak buat batu bata aja…

Sampai di sini, kok ide penulis berubah untuk membubarkan aja Sistem Pendidikan Nasional…diganti yang baru…belum lagi kalau membahas Guru, digugu lan ditiru…Sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak guru yang diterima menjadi guru dengan membayar sekian juta, makanya sekarang banyak koruptor…

Sistem pendidikan Home Schooling/Padepokan

Seharusnya pendidikan di Indonesia cukup difasilitasi saja dengan pengucuran dana pemerintah ke masyarakat. Masyarakat biarlah memberdayakan pendidikan yang selama ini ada di tengah mereka …tidak usah dibentuk menjadi satu format yang tersistem secara birokratis…

Catatan: Artikel pernah dipulikasikan di Blog: www.lukmanairfan.wordpress.com

* Lukman, S.Ag., M.Pd., Bekerja di Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indonesia sebagai Koordinator Pengembangan Akademik. Artikel ini adalah pendapat pribadi.