Seminar Islam Indonesia di Program Doktor Hukum Islam FIAI UII

0
49

Program Doktor Hukum Islam FIAI UII sukses menggelar seminar bertajuk “Indonesian Islam: Changing Landscape. Fragmentation and Contestation” pada Sabtu (24/3/2018) di Kampus UII Demangan. Seminar yang dimulai pukul 08.30 WIB ini mengangkat topik Islam Indonesia sebagai salah satu isu kontemporer yang menjadi perhatian masyarakat. Dalam sambutannya saat membuka seminar, Sekretaris Program Pascacsarjana FIAI, Dr. Drs. Yusdani, M.Ag. menyebutkan bahwa kajian Islam Indonesia merupakan karakter khusus yang juga terus dikembangkan sejak awal pendirian Program Doktor Hukum Islam.

Sesi pertama seminar menghadirkan tiga narasumber yaitu Prof. Dr. Faisal Ismail, MA, Dr. Munirul Ikhwan, Lc.,MA, dan Ganjar Widhiyoga, M.A., Ph.D. Sesi ini mengambil tema The Making of Indonesian Islam: Ideological, Political and Legal Debates. Prof. Faisal Ismail memulai sesi ini dengan menyampaikan makalah berjudul “Religion, State, and Ideology in Indonesia: A Historical Account of the Acceptance of Pancasila as the Basis of Indonesian State”. Alumni Columbia University, AS dan McGill University, Kanada ini menjelaskan bagaimana Pancasila akhirnya diterima sebagai dasar negara di Indonesia. Proses pengakuan ini melewati jalan berliku sejak istilah Pancasila dimunculkan oleh Ir. Soekarno dalam sidang BPUPKI sampai dengan kompromi politik antara nasioanlis dan Islamis di masa awal kemerdekaan.

Narasumber kedua, Ganjar Widhiyoga, Ph.D., menyampaikan makalah bertajuk “The Quest for Islamic Leadership: Indonesian Muslims’ Reaction to Magnificent Century”. Dalam paparannya, alumni Durham University, Inggris, ini membahas bagaimana ekspresi Islam politik di Indonesia mendapat tekanan di masa awal kemerdekaan hingga Orde Baru sampai akhirnya mendapatkan momentumnya di masa Reformasi. Perkembangan lainnya yang juga didiskusikan adalah bagaimana media sosial mampu membangun opini publik mengenai Islam yang ideal di Indonesia sehingga mampu mempengaruhi keputusan penyiaran dalam kasus sinema televisi.

Dalam paparannya yang berjudul “‘Democratic’ Sharīʿa: Islamic Legal Discourse in an Era of Nation-States”, Dr. Munirul Ikhwan membahasa bagaimana diskursus ikhtilaf (perbedaan pandangan dalam fikih) memberikan peluang bagi umat Islam dalam mengekspresikan aktivitas keagamaannya. Lebih dari itu, diskursus ikhtilaf juga menjadi fondasi bagi ajaran syariah yang lebih demokratis dan bahkan menjadi salah satu penantang bagi otoritarianisme hukum. Alumni Freie Universität Berlin, Jerman ini mengambil pandangan M. Quraish Shihab sebagai contoh kasus ikhtilaf di Indonesia, terutama pada masalah penentuan awal dan akhir Ramadhan dan suku bunga perbankan.

Sesi kedua seminar, menghadirkan Drs. Suwarsono Muhammad, MA, Prof. Dr. Abdul Karim, MA.,MA. dan Dr. Zuly Qodir, MSI. Suwarsono Muhammad, MA menyampaikan makalah “Dancing within the Nation-State: An Illiberal Democratic Way for Indonesian Islam”. Mantan Penasehat KPK RI ini mengulas bagaimana perkembangan politik dan ekonomi umat Islam yang bergerak dinamis namun cenderung makin menepi sejak masa awal kemerdekaan bahkan hingga saat ini. Selanjutnya, Suwarsono Muhammad, MA mengajukan strategi Islam politik moderat dengan dua jalan yaitu 1) melakukan moderasi dengan mendukung negara-bangsa yang sudah ada dan 2) tidak perlu dipaksa mengikuti model demokrasi politik liberal.

Prof. Abdul Karim menyampaikan makalah berjudul “Islam Indonesia: Sebuah Identitas Historis”. Paparannya antara lain menyoroti sejumlah teori mengenai masuknya Islam ke Indonesia dan akulturasinya dengan budaya lokal sampai dengan perkembangan terkini. Guru besar sejarah ini juga menekankan peran Islam dalam sejarah modern Indonesia mulai dari kebangkitan nasional hingga pembentukan moral bangsa.

Dr. Zuly Qodir, MSI sebagai narasumber terakhir secara garis besar menyampaikan tentang Populisme Islam Indonesia. Dosen UMY sekaligus Tenaga Ahli UKP PIP ini dalam pemaparannya, mengatakan bahwa Islam di Indonesia memiliki banyak variannya sehingga ini yang menyebabkan Islam Indonesia tidak dapat disatukan. Satu pemahaman Islam bertarung melawan pemahaman Islam yang banyak dan saling serang, jika ditarik pada peta pemikiran maka Islam yang paling kiri sampai yang paling kanan pun ada. Dinyatakan juga bahwa politik Islam Indonesia tidak pernah ada sampai saat ini hanya karena sesama Islam saling beradu.

Seminar tersebut dapat di saksikan online dengan mengeklik link di bawah:

PART 1PART 2